Mencari Akhirat di Belantara Industri

Ada yang mengatakan, perbandingan pengusaha (baca: investor) idealis dengan pekerja idealis yang tidak imbang menjadi salah satu faktor terbesar mengapa sektor ekonomi riil di Indonesia ini tidak kunjung sembuh. Saya tak hendak membahas permasalahan negara tersebut dalam artikel singkat ini, selain karena tentu saja pembahasannya yang akan sangat panjang, saya juga bukan ahlinya dalam bidang ekonomi. Tulisan ini hanya sekedar berbagi pengalaman dan ide, dengan tujuan menciptakan industrialis yang humanis dan agamis, lebih khusus lagi menjadi pekerja yang menjaga (dan mengembangkan) idealismenya di kampusnya dulu, agar tidak menjadi penghias lisan saat bercakap, tapi juga bersenyawa dalam tiap langkahnya saat beribadah (baca: bekerja) di kantor-kantor industrinya masing-masing. 

Jangan bilang kalau dulu di zaman nabi dan para sahabatnya tidak ada yang berstatus sebagai pekerja. Bukankah Rasulullah SAW juga sebenarnya merupakan pekerja yang bekerja –dengan mendagangkan barang- untuk Khodijah RA? (Sebelum beliau menjadi suaminya). Tapi pekerja yang mengetahui dan memiliki harga dirinya sendiri, sehingga ia bekerja berlandaskan sebuah rangkain berfikir yang besar dan utuh sebagai manusia, dengan berbagai macam potensi, visi dan misinya, bukan sebagai mesin tak bermoral dan robot tak berakal. Sehingga bekerja, sebagai mana pilihan profesi lain, bukan merupakan kehinaan, bukan pula keistimewaan, biasa saja, karena yang dilihat dari sebuah pilihan profesi bukanlah status dan hasilnya, melainkan motivasi dan prosesnya. ”Sungguh, Allah tidak melihat penampilan luar kalian, tapi memperhatikan apa yang ada dalam hati kalian”.

Menjadi pekerja juga bukan merupakan profesi yang mudah. Monster materialisme dan hedonisme Baca lebih lanjut

Iklan

A slight moment in IIUM (International Islamic Univ. of Malaysia)

“Souls are like conscripted soldiers, those whom they recognize, they come together, and those whom they do not recognize, they stay away” (meaning of one HR Muslim)

 Waktu menunjukkan pukul 5.25 PM saat memulai perjalanan survey ke IIUM kamis sore. Setelah membeli tiket LRT di stasiun Ampang Park, sampai di stasiun Gombak sekitar jam 6.05 PM. Selanjutnya taksi menjadi pilihan kendaraan menuju masjid kampus untuk tubuh yg mulai lelah ini. Sampai kampus, saya cukup takjub dengan infrastruktur dan bangunan IIUM, mungkin ITB kalah. Sesegera mungkin setelah sampai depan masjid, saya kirim pesan ke Pak Sigit (ketua PIP) yang sebelumnya sudah janjian akan silaturahmi ba’da tarawih.

Sambil ngabuburit, saya keliling memperhatikan fakultas-fakultas yang ada dalam kampus. What a complete facility… Perpustakaan dar el hikmah yang ngalahin gedung biru (sekarang abu2)-nya ITB. Fasilitas umum dan kantor-kantor pelayanan mahasiswa yang terkesan seperti dalam sebuah etalase pusat bisnis. Mahasiswa-mahasiswa berbaju koko dan berkopiah atau bergamis. Walaupun ada juga yang cuma pakai kaos biasa dan celana jeans, tapi tidak mengurangi suasana islami yang damai dalam kampus modern nan indah ini. Arsittektur bangunannya banyak yang mirip Baca lebih lanjut

Penyikapan untuk serial “Sleeper Cell”

Bismillah…

Sleeper cell, mungkin secara bahasa berarti sel yang tidur, tapi konteksnya disini tentu saja bukan berbicara tentang biologi. Yang saya maksud adalah sebuah film serial buatan amerika berdurasi 40 menit yang disiarkan tiap pekan di saluran FoxCrime (untuk yang langganan TV kabel bisa dilihat pada bulan2 ini).  Resensi singkatnya bisa dilihat disini.

Saya bukan ingin melakukan resensi ulang, namun lebih pada penyikapan dan opini saya terhadap film ini. Secara umum, seperti pada film-film amerika lainnya, disana ada nuansa kekerasan dan aksi-aksi heroik dari sang jagoan, Darwyn Al-Sayed (Micheal Ealy) yang secara sengaja disusupkan pada kelompok ekstrem pimpinan Faris Farik (Oded Fehr) dengan target menghancurkan pemerintah amerika. Saya akan coba mengupasnya sejauh pemahaman saya tentang dunia pergerakan dari beberapa sisi.

Pertama, dilihat dari keseriusan pembuat film dalam menggarap asal-usul karakter yang terlibat. Saya cukup terkagum, bagaimana sang sutradara dan script writer membuat kelompok tersebut begitu kompak. Walaupun dengan latar belakang suku dan negara yang sangat berbeda (saudi, bosnia, palestine, prancis dan bahkan amerika sendiri) di bawah pimpinan Farik. Di beberapa episode, walaupun ada sedikit ketidak taatan pada kelompok tersebut, tapi Farik berhasil menyatukan kembali pemikiran dan jiwa mereka dengan hukuman-hukuman dan ceramah-ceramahnya. Diskusi-diskusi yang dibawakan oleh kelompok ini juga seringkali menyitir ayat-ayat qur’an dan hadits rasul. Dari sudut ini,  tergambarkan bahwa mayoritas kaum muslimin tidak suka  pemerintah amerika dengan kebijakan-kebijakan luar negrinya.  Oleh karena itulah kelompok ini terbentuk, namun sayangnya karena aroma dendam yang kuat, jadi saluran mereka melalui cara kekerasan. Di sisi ini, karakter Farik sangat kuat mendominasi Baca lebih lanjut

Kunjungan Da’wah di Thailand (Ep.2)

Jum’at, 28 Januari 2008

Setelah subuh berjamaah, kami berbincang ringan bersama dengan keluarga Pak Hambas, sekitar jam 8 pagi, kami menyantap masakan khas palembang yang dibuat oleh istri tuan rumah. Kami seperti di dalam negeri sendiri saat merasakannya. Jam 9.30, kami berangkat menuju rumah seorang warga negara indonesia yang bekerja untuk dan di perusahaan thailand. Sudah cukup lama beliau bermukim di bangkok. Ibu saya mengisi pengajian ibu-ibu indonesia di sana, sementara saya mempersiapkan untuk khutbah jum’at di KBRI. Jam 12.30, kami berangkat menuju KBRI untuk menunaikan sholat jum’at. Di bangkok, karena perbedaan waktu dari jakarta, dan karena masyarakat indonesia yang bekerja di sini saling berjauhan, maka dzhuhur disini baru dimulai sekitar jam 13. Sebenarnya terdapat beberapa masjid besar yang setiap 5 waktu mengumandangkan azan, maklum, walaupun bukan mayoritas, akan tetapi jumlah total muslim disini sekitar 10 %. Saya menyampaikan khutbah jum’at dengan tema Kedekatan dengan Al-qur’an dan efeknya pada kehidupan. Setelah selesai mengimami sholat jum’at, kami memenuhi undangan makan bersama di rumah penyelenggara pengajian ibu-ibu. Ketika energi kami terasa sudah cukup, kami di ajak untuk melihat kembali jejak-jejak islam Indonesia di Bangkok. Kami menuju masjid Jawa yang cukup terkenal di masyarakat muslim Bangkok. Namun, dalam perjalanan, kami dipaksa mampir sebentar untuk dibelikan buah tangan oleh tuan rumah. Karena situasi kota Bangkok yang macet, dan juga karena jaraknya yang cukup jauh, kami baru sampai di masjid jawa sekitar ba’da ashar. Luas masjid ini sekitar 20X20 meter, satu lantai, dengan tempat wudhu di samping kiri dan kanan masjid, tepat di arah timur masjid, berhadapan dengan pintu masjid dan tanpa dihalangi dinding pembatas, adalah tempat bermain dan belajar al-qur’an, semacam TPA di indonesia, cukup untuk menampung sekitar 70-100 siswa, dilengkapi dengan bangku dan meja serta papan tulis, ada tulisan arab pada papan itu. Arsitektur atap dari keseluruhan bangunan ini masih seperti dulu, mengandung unsur tumpang, ciri khas masjid-masjid jawa.

Ternyata, nama masjid jawa bukanlah sekedar penisbatan semata, akan tetapi memang masyarakat yang tinggal di sekitar sana mayoritasnya adalah keturunan jawa dan muslim. Di samping kiri seberang jalan masjid, terdapat area pemakaman yang cukup luas dari masyarakat sekitar. Kuburan di Bangkok, adalah fenomena langka dan unik. Karena mayoritas masyarakatnya menganut kepercayaan Buddha yang menyuruh untuk membakar mayat yang sudah mati supaya bisa hidup kembali pada kehidupan yang akan datang. Untuk memastikan, setelah kami sholat ashar, kami mencoba berkenalan dan melakukan wawancara dengan salah seorang pengurus masjid. Kebetulan beliau sedang Kami berbincang sekitar 15-20 menit, awalnya guide dari KBRI memberikan pengantar sekaligus menjadi translator dengan bahasa Thailand campur inggris, namun yang diajak bicara rupanya tidak terlalu mahir bahasa inggris. Ternyata beliau memperhatikan bahwa kami berasal dari Indonesia dari bahasa yang kami gunakan dalam komunikasi sesama kami. Akhirnya beliau mengaku bisa sedikit bahasa indonesia kepada kami, lebih tepatnya bliau fasih dalam bahasa jawa. KArena kendala bahasa tidak lagi jadi masalah, kami jadi lebih bebas mewawancarai beliau, komunikasi yang awalnya terlihat seperti akan jemu ternyata malah mengasyikkan. Beliau mengaku bernama Haji Salama, datang dari daerah Kendal (dekat Semarang) sejak jaman awal kemerdekaan, mungkin beliau termasuk yang di bawa tentara jepang saat perang dunia 2. Pak Salama memiliki anak dan cucu di daerah itu, dan Alhamdulillah, semuanya masih muslim. Walaupun mayoritas masyarakat keturunan daerah tersebut muslim, akan tetapi ada juga yang keluar dari Islam. Pada waktu idul adha, Pak Salama mengatakan ada sekitar 8 sapi yang disembelih di masjid ini.

Perbincangan kami diselingi dengan kesibukan orang-orang jama’ah tabligh dari pakistan/bangladesh Baca lebih lanjut

Kunjungan Da’wah Saya Ke Thailand (Ep. 1)

Rabu, 23 Januari 2008

Berangkat dari Bandara Soekarno Hatta, Jam 22.00 dengan menggunakan penerbangan Garuda Airlines GA 867. Straight to Thailand.

Kamis, 24 Januari 2008

Jam 2.30 pagi, kami tiba di bandara Suvarnabhumi, bandara Internasional Thailand yang baru di bangun dan merupakan bandara terbesar di asia tenggara. Dinding-dindingnya terbuat dari kaca sehingga orang-orang dari luar bisa melihat yang di dalam, dan yang didalam bisa melihat lapangan lepas landas pesawat. Setelah mengurus masalah imigrasi di bandara kami dijemput oleh Pak Hambas dan PAk Heru. Pak HAmbas adalah salah satu karyawan Garuda yang ditempatkan bekerja di Bangkok. Sedangkan Pak Heru adalah seorang dosen FH UI yang sedang meneruskan S 3 nya di Mahidol University, Bangkok. Mereka adalah aktivis da’wah yang mengundang kami ke sana. Mereka juga yang memperkenalkan kami pada KBRI.

Dari bandara Suvarnabhumi, Pak Hambas yang menyetir honda Civic nya membawa kami ke apartemen nya di Bangkok, distrik Sukhumvit. Melalui kota Bangkok di tengah malam, walau masih terlihat gemerlapnya, akan tetapi toko-toko biasa sudah pada tutup. Apartemen PAk Hambas ini seperti hotel dengan 3 ruangan kamar tidur yang besar. Kami beristirahat di rumah Pak Hambas hingga Subuh. Ketika Subuh, kami melaksanakan sholat subub berjama’ah. Kemudian, jam 10 pagi, kami diantarkan ke KBRI. KBRI di Bangkok ini merupakan salah satu KBRI yang terbesar. DIkabarkan, dulu keluarga raja pernah ditolong oleh Indonesia, sehingga sebagai balas jasa, KBRI di Thailand diberikan di tempat yang Istimewa.

Jam 10, saya mengisi pengajian Baca lebih lanjut

I am on Website itb.ac.id

Nyatanya yang namanya media adalah alat. Sebagaimana sebuah pisau, ia akan berefek pada kebaikan jika dipakai oleh orang yang benar, dan akan berefek buruk jika digunakan oleh orang yang salah. Berikut adalah hasil wawancara saya dengan reporter website resmi kampus ITB, www.itb.ac.id . Alhamdulillah bisa masuk ke dalam web site resmi itb yang cukup banyak dikunjungi oleh masyarakat. Mudah2an bisa menjadi sarana saluran pemikiran yang cukup efektif

Qurban pertamaku Di Hari Pengorbanan

Sebuah Kontradiksi…

Bismillah

Pagi hari, 20-12-07

Idul adha, sebagaimana artinya, ‘kembali ke pengorbanan’, seharusnya dimaknai dengan rasa pengorbanan apa saja yang kita miliki, kita korbankan demi ridho dan  cinta-Nya. Namun pengorbanan itu disimbolkan dengan penyembelihan hewan ternak peliharaan. Begitu juga yang keluarga kami coba budayakan. Bapak, ibu, saya dan adik ke-2 saya ikut urunan untuk membeli hewan qurban sesuai dengan yang disayari’atkan. Walaupun saya harus menabung beberapa bulan untuk membeli satu bagian, alhamdulillah keinginan itu terkabulkan juga. Kebetulan keluarga kami menitipkan satu ekor kambing yang   akan disembelih pada hari idul adha setelah sholat ‘id. Kami menitipkannya pada panitia di masjid komplek, sekaligus juga untuk diurus pembagiannya kepada masayarakat sekitar. Sedangkan hewan yang lain dititipkan di tempat lain. Selepas makan pagi  ba’da ‘id,  saya melihat sesi penyembelihan hewan dengan keluarga, dan beberapa warga asli komplek, termasuk pak rama pratama.

kurban-2ed.jpgKetika waktunya kambing kurban kami akan disembelih, ibu meminta saya untuk  mewakili keluarga menyembelih kambing tersebut. Dengan tuntunan   Takbir dan basmalah, akhirnya saya berhasil menyembelihnya dengan lancar. Darah mengalir dan muncrat kemana-mana, melumuri kedua tangan saya, termasuk ke pakaian dan wajah say Baca lebih lanjut