Kesadaran Generasi Muda Terhadap Kebangkitan

By: afzalurrahman assalam, mahasiswa

100 tahun lalu, menurut sejarah yang dicatat oleh waktu, sekelompok pemuda Indonesia pertama kali mendirikan perkumpulan yang mengusung tema perjuangan kemerdekaan Indonesia dari penjajah dalam bentuk organisasi modern. Momentum tersebut di kemudian hari dijadikan sebagai salah satu peristiwa titik balik bangsa ini dalam merebut kemerdekaannya. Sebenarnya, jika dilihat lebih detil pada sejarah, ada beberapa organisasi yang juga mengusung tema kemerdekaan namun dengan nama yang berbeda. Tapi bukan itu yang akan menjadi titik beratnya.

Di tengah kondisi bangsa dan negara yang saat ini berada dalam krisis multidimensi berkepanjangan seperti tak berujung ini, bangsa ini butuh harapan. Dan harapan muncul dari sebuah momentum. Oleh karena itulah, mengapa momentum 100 tahun kebangkitan nasional menjadi penting. Masalah yang berlarut pada bangsa ini membutuhkan solusi dan perubahan menuju kea rah yang lebih baik. Namun perubahan itu sendiri bukan tanpa energy. Terutama harga social yang sangat menyedot energy kita. Dengan adanya momentum kebangkitan ini, energy tersebut diharapkan mengisi kembali baterai kesadaran kita, untuk bekal melakukan perubahan.

Tapi, seperti terlihat di tengah realita sebagian masyarakat kita, benarkah kesadaran akan kebangkitan untuk perubahan ke arah yang lebih baik itu sudah muncul pada setiap hati jiwa Indonesia? Budaya negative yang tengah menjamur pada sebagian remaja, penyakit individualistis- yang menyebabkan ketidakpedulian terhadap kondisi masyarakat- yang menulari para pemuda, serta berbagai fenomena Baca lebih lanjut

Iklan

TINJAUAN KRITIS TERHADAP FASE-FASE PERADABAN ISLAM

Afzalurrahman Assalam, Teknik Geofisika ITB, Peserta PPSDMS Regional II Angkatan 2

Banyak dari kita yang sudah mengetahui tentang fase-fase peradaban islam yang diperkirakan Rasulullah. Dalam haditsnya yang terkenal, beliau menyebutkan tentang keadaan dan kondisi umat islam, yang dalam hal ini beliau cirikan dengan keadaan para penguasanya. Setidaknya beliau membagi fase peradaban islam setelah beliau wafat dalam empat fase. Fase pertama adalah fase dimana kepemimpinan kaum muslimin dikelola oleh orang-orang yang mengacu pada cara (manhaj) kepemimpinan nabi (khilaafah ‘alaa minhaajin –nubuwwah), yang adil dan mengangkat kewibawaan Islam. Menurut para ulama pergerakan, fase ini disepakati sudah berlalu dengan para aktornya adalah khulafaa-ur-rasyidiin (Khalifah-khalifah yang diberikan petunjuk: Abu Bakr, Umar, Utsman dan Aliy ). Fase kedua merupakan masa dimana para penguasanya kebanyakan adalah penguasa yang sombong, angkuh dan tidak lagi menggunakan manhaj kepemimpinan nabi. Walaupun begitu, para penguasa di fase ini masih menggunakan hukum-hukum Islam sebagai dasar perundangan negara. Fase ini disepakati oleh para ulama pergerakan juga sudah terlewati. Diakhiri dengan runtuhnya kekhilafahan Islam internasional Baca lebih lanjut

PERAN STRATEGIS NEGARA-NEGARA MUSLIM dalam PERDAMAIAN DUNIA

artikel maret 07

Afzalurrahman Assalam, Teknik Geofisika ITB, Peserta PPSDMS Regional II Angkatan 2.

Negara Madinah dalam Pergaulan Global

Bahwa perdamaian dunia diterapkan seadil-adilnya dimanapun adanya, itu sudah menjadi sebuah keharusan. Tentu setiap manusia yang mencintai kebenaran akan mencintai kedamaian. Apalagi bagi individu-individu muslim yang sejatinya adalah rahmat bagi seluruh alam. Pada masa silam, Islam mencontohkan kepada dunia tentang betapa beradabnya sebuah pemerintahan Islam saat berprilaku dalam pergaulan global. Ketika Romawi dan Persia sedang saling tikam, negara Madinah mengajak mereka kepada kebenaran yang sesungguhnya. Kepada suatu hal yang membawa perdamaian, dibawah naungan kesatuan penghambaan pada Allah.

Waktu kaum musyrikin Quraisy mencoba melanggar perjanjian Hudaibiyyah dan memprovokasi negara Madinah supaya mereka mengkhianati perjanjian, Rasulullah tetap dalam sikapnya memegang perjanjian tersebut sebagai kepala negara. Dan akhirnya, musyrikin sendirilah yang merobek-robek perjanjian tersebut. Baru kemudian Rasulullah bertindak karena perjanjian sudah tidak berlaku ketika ada salah satu pihak yang melanggar. Dan banyak lagi contoh-contoh yang diterapkan Islam, pada waktu itu.

Persekongkolan Konspirasi Internasional

Ahmad dan Abu Daud meriwayatkan dari Tsauban, bahwa Rasul s.a.w bersabda “Berbagai bangsa sebentar lagi akan menyerang kalian dari segala penjuru, bagaikan gerombolan rayap menyerang tempat makan mereka. Para sahabat bertanya: ‘Apakah hal itu karena kita pada waktu itu berjumlah sedikit?’ Rasulullah menjawab: ‘ tidak, bahkan kalian pada waktu itu banyak, tetapi kalian adalah buih, bagaikan buih air bah. Sesunguhnya Allah akan mencabut kewibawaan kalian dan pada waktu yang sama Allah menimpakan wahn pada hati kalian’. Para sahabat bertanya: ‘ Apakah wahn itu ya Rasulallah?’, bliau menjawab: ‘cinta dunia dan takut mati’.

Hadits ini menunjukkan pada fenomena persekongkolan internasional di mana berbagai bangsa menyerang kaum Muslim. Umat Islam waktu itu menjadi makanan yang mudah ditelan oleh siapa saja seperti terlihat dewasa ini. Barat dan Timur, golongan kanan dan kiri, ahli kitab dan atheis. Sebagaimana yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an: “ Mereka itu satu dengan yang lain saling membantu”. Serbuan tersebut bukan karena jumlah umat Islam yang kecil. Jumlah mereka banyak, bahkan pada hari ini telah mencapai lebih satu milyar. Tetapi jumlah tersebut tidak dapat mempertahankan diri sendiri dan tidak bermanfaat. Gambaran yang paling tepat mengenai keadaan mereka ialah bagaikan buih air bah, yaitu segala benda yang dibawa oleh arus banjir itu termasuk kayu, daun, ranting, sampah dan lain sebagainya dari barang-barang yang bersifat ringan, terapung, tidak dapat bersatu dan bergerak tanpa arah yang jelas. Keadaan itulah membuat umat yang berjumlah banyak ini tidak berwibawa dan tidak disegani.

Realitanya dapat ditemukan dengan mudah, contoh kasus Iran Baca lebih lanjut

Kepahlawan Pemimpin Indonesia

My november article

Afzalurrahman Assalam, Teknik Geofisika ITB, Peserta PPSDMS Regional II Angkatan 2

 

Pahlawan, dalam definisi kamus bahasa Oxford, ialah manusia(orang) yang digelari atau dihormati atas ketinggiannya, keberanian, keteguhan hati, dan kemampuan yang luar biasa. Seringkali masyarakat awam berpandangan bahwa pahlawan adalah orang-orang yang sangat berjasa pada kehidupannya.

Kepahlawanan membawa sifat dasar, yaitu keberanian dan kerelaan berkorban. Atau setidaknya, perjuangannya telah membuktikan bahwa pahlawan berani berkorban, tentu saja bagi kepentingan orang yang menghargainya sebagai pahlawan. Karena sifat ini, maka definisi pahlawan menjadi sangat luas. Bagi seorang anak, ibu adalah pahlawan. Bagi seorang istri, suami adalah pahlawan. Kondisi ini bisa juga berlaku sebaliknya. Namun jika difokuskan pada level masyarakat atau umat, maka pelakunya adalah manusia-manusia bermental baja yang dengan sangat berani, telah membuktikan kerelaannya mengorbankan apa saja yang dia miliki, untuk kepentingan umat, demi keberlangsungan kehidupan manusia.

Para nabi, ulama dan da’i, adalah pahlawan, bagi kepentingan kehidupan akhirat manusia. Para ilmuwan, akademisi, peneliti adalah pahlawan, untuk kepentingan kehidupan duniawi manusia. Mereka rela menjadikan diri mereka sebagai harga yang harus dibayar untuk mendapatkan kondisi yang ideal bagi manusia. Mereka menghabiskan sebagian besar waktu mereka, untuk kepentingan kebaikan manusia itu sendiri. Namun kebanyakan dari mereka tak dikenal dan dikenang masyarakat banyak, karena tidak dipublikasikan atau juga tidak langsung bersentuhan dengan masyarakat.

Pahlawan bisa juga muncul dalam wujud pemimpin. Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab adalah salah satu diantara pahlawan-pahlawan Islam, yang telah merelakan dirinya untuk kepentingan umat Islam pasca wafatnya Rasulullah SAW. Umar bin Khattab bahkan tak rela jika harta umat terpakai sedikitpun untuk kepentingan pribadinya, kecuali yang sudah menjadi haknya. Dia pun perlu mematikan lampu lilin kantornya untuk bisa berdiskusi masalah keluarga dengan putranya. Abu Bakar, Baca lebih lanjut

Antara Pemuda Indonesia & Pemuda Rosulullah

Peran Pemuda Dalam Memerdekakan Bangsa Seutuhnya

Indonesia dan Penjajahan

Sudah lebih dari 60 tahun sejak Bung Karno mendeklarasikan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Setelah melalui perlawanan atas penjajahan fisik selama kurang lebih tiga setengah abad. Kita telah merdeka secara fisik. Namun, ternyata mental-mental keterjajahan itu masih bersemayam dalam jiwa sebagian besar masyarakat kita. Betapa tidak, kita baru merdeka sekitar setengah abad, sedangkan rentang waktu penjajahan fisik itu sudah lebih dari tiga setengah abad.

Tapi sayangnya alasan ini tidak bisa dijadikan argument pemaafan akan keterbelakangan bangsa kita. Lihat Malaysia dan Korea Selatan yang umur kemerdekaannya lebih muda dari Indonesia, sudah menjadi salah satu ‘Macan Asia’. Kualitas SDM dan SDA bangsa kita sama sekali tidak kalah dengan mereka, karena Allah menciptakan hardware(piranti keras) manusia itu sama potensinya. Begitu dahsyatnya keterbelakangan kita dalam berbagai bidang. Dalam hal ekonomi, bangsa ini dikuasai hegemoni kapitalis yang rakus. Segi politik, para preman jalanan itu telah mengganti baju mereka dengan jas dan dasi yang mewah namun dengan perilaku tak berubah. Di bidang moral, rasa kemanusiaan mati terhadap penghargaan nyawa. Persis puisi Kahlil Gibran tentang “Bangsa Kasihan”. Kasihan bangsa, yang menjadikan orang dungu sebagai pahlawan, dan menganggap penindasan penjajah sebagai hadiah. Kasihan bangsa, yang negarawannya serigala, filosofnya gentong nasi, dan senimannya tukang tambal dan tukang tiru. Kasihan bangsa yang tidak pernah angkat suara kecuali jika sedang berjalan di atas kuburan, tidak memberontak kecuali ketika lehernya sudah berada di antara pedang dan landasan.

Pemuda Indonesia

Baca lebih lanjut

Peran Pemuda dalam Akselerasi Pembangunan

artikel Januari 07

Afzalurrahman Assalam, Teknik Geofisika ITB, Peserta PPSDMS Regional II Angkatan 2

 

Pemuda dalam tiap masa selalu menjadi tulang punggung sebuah perubahan. Apakah itu perubahan menuju lebih baik atau sebaliknya. Pemuda dalam definisi sosial adalah generasi antara umur 20 – 40 tahun ( atau 18- 35 tahun dalam referensi lain). Dalam kajian ilmu sosial, puncak kematangan peran publik seorang manusia ialah antara umur 40 -60 tahun. Dari perbandingan di atas, kita dapat menyimpulkan, bahwa pemuda adalah penerus generasi sebelumnya untuk masa yang akan datang.

Akan tetapi peran pemuda dalam keberjalanan roda Negara tetaplah krusial. Banyak contoh di berbagai Negara, dimana titik tolak perubahan justru berawal dari perjuangan pemuda. Sangatlah wajar. Setidaknya ada dua rahasia besar kekuatan pemuda, yaitu kekuatan personal dan keunggulan mengorganisasi kekuatan. Al-qur’an mengabadikan keunggulan personal pemuda yang mempunyai sifat qowiyyun amiin ( kuat dan dapat dipercaya), hafiidzun aliim ( amanah dan berpengetahuan luas), bashthotan fil ‘ilmi wal jism ( kekuatan ilmu dan fisik ), ra’uufun rohiim ( santun dan pengasih ). Sifat-sifat unggul tersebut merupakan potensi besar, yang menumpuk pada individu pemuda, dimana masyarakat sangat mengharapkannya.

Rahasia berikutnya adalah keunggulan mengorganisasi kekuatan. Ada setidaknya lima faktor prinsip yang dipegang pemuda, dalam mengorganisasi kekuatan mereka, yaitu Baca lebih lanjut

ME & MY PRESIDENTS

artikel Juni 07

Afzalurrahman Assalam, Teknik Geofisika ITB, Peserta PPSDMS Regional II Angkatan 2

Dalam sejarah kepemimpinan bangsa Indonesia, jabatan Presiden Republik negara ini baru berganti sebanyak enam kali. Dengan gaya kepemimpinan yang berbeda-beda dalam setiap masa mereka. Setiap gaya kepemimpinan mereka selalu mempunyai peran positif dan negative yang dampaknya terhadap masyarakat berbeda pula. Namun, yang patut di camkan adalah sebuah hadits Rasulullah SAW dengan redaksi yang kurang lebih seperti ini, ”Pemimpin sebuah kaum, adalah cerminan dari sikap mental kaum itu sendiri”. Sebelum dilanjutkan, ada baiknya kita membandingkan sejarah bangsa Indonesia yang baru merdeka  tahun 1945 ini, dengan bangsa-bangsa lain pada era yang sama. Kepemimpinan Republik Korea, sudah berganti lebih dari 7 kali dari sejak mereka merdeka. Kepemimpinan Amerika Serikat, sudah berganti lebih dari 9 kali sejak tahun 1945. Fakta ini menandakan bahwa kepemimpinan di Indonesia masih sangat terpengaruh oleh budaya raja-raja dahulu, yang sebagian besar menguasai Indonesia. Masyarakatnya pun sampai sekarang masih ada yang mewarisi sikap mental akibat pengaruh sejarah ini.

Dengan berbagai karakter yang dibawanya, ternyata para presiden terdahulu bangsa ini belum bisa menjadikan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang diberikan oleh Allah SWT, sebagai modal dan sarana untuk kemakmuran dari seluruh masyarakat negeri. Bagaimana tidak, sebagaimana kita ketahui, Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang berlimpah, begitu juga dengan sumber daya manusianya. Dalam buku the economist, yang di terbitkan UK tahun 2003 terdapat fakta yang seharusnya bisa menyadarkan para pemimpin negara ini. Secara SDA, Indonesia merupakan negara terluas nomor 15 di dunia, jumlah penduduknya terbanyak nomor 4 di dunia,penghasil Biji-bijian terbesar nomor 6 di dunia Baca lebih lanjut