Mencari Akhirat di Belantara Industri

Ada yang mengatakan, perbandingan pengusaha (baca: investor) idealis dengan pekerja idealis yang tidak imbang menjadi salah satu faktor terbesar mengapa sektor ekonomi riil di Indonesia ini tidak kunjung sembuh. Saya tak hendak membahas permasalahan negara tersebut dalam artikel singkat ini, selain karena tentu saja pembahasannya yang akan sangat panjang, saya juga bukan ahlinya dalam bidang ekonomi. Tulisan ini hanya sekedar berbagi pengalaman dan ide, dengan tujuan menciptakan industrialis yang humanis dan agamis, lebih khusus lagi menjadi pekerja yang menjaga (dan mengembangkan) idealismenya di kampusnya dulu, agar tidak menjadi penghias lisan saat bercakap, tapi juga bersenyawa dalam tiap langkahnya saat beribadah (baca: bekerja) di kantor-kantor industrinya masing-masing. 

Jangan bilang kalau dulu di zaman nabi dan para sahabatnya tidak ada yang berstatus sebagai pekerja. Bukankah Rasulullah SAW juga sebenarnya merupakan pekerja yang bekerja –dengan mendagangkan barang- untuk Khodijah RA? (Sebelum beliau menjadi suaminya). Tapi pekerja yang mengetahui dan memiliki harga dirinya sendiri, sehingga ia bekerja berlandaskan sebuah rangkain berfikir yang besar dan utuh sebagai manusia, dengan berbagai macam potensi, visi dan misinya, bukan sebagai mesin tak bermoral dan robot tak berakal. Sehingga bekerja, sebagai mana pilihan profesi lain, bukan merupakan kehinaan, bukan pula keistimewaan, biasa saja, karena yang dilihat dari sebuah pilihan profesi bukanlah status dan hasilnya, melainkan motivasi dan prosesnya. ”Sungguh, Allah tidak melihat penampilan luar kalian, tapi memperhatikan apa yang ada dalam hati kalian”.

Menjadi pekerja juga bukan merupakan profesi yang mudah. Monster materialisme dan hedonisme Baca lebih lanjut