A slight moment in IIUM (International Islamic Univ. of Malaysia)

“Souls are like conscripted soldiers, those whom they recognize, they come together, and those whom they do not recognize, they stay away” (meaning of one HR Muslim)

 Waktu menunjukkan pukul 5.25 PM saat memulai perjalanan survey ke IIUM kamis sore. Setelah membeli tiket LRT di stasiun Ampang Park, sampai di stasiun Gombak sekitar jam 6.05 PM. Selanjutnya taksi menjadi pilihan kendaraan menuju masjid kampus untuk tubuh yg mulai lelah ini. Sampai kampus, saya cukup takjub dengan infrastruktur dan bangunan IIUM, mungkin ITB kalah. Sesegera mungkin setelah sampai depan masjid, saya kirim pesan ke Pak Sigit (ketua PIP) yang sebelumnya sudah janjian akan silaturahmi ba’da tarawih.

Sambil ngabuburit, saya keliling memperhatikan fakultas-fakultas yang ada dalam kampus. What a complete facility… Perpustakaan dar el hikmah yang ngalahin gedung biru (sekarang abu2)-nya ITB. Fasilitas umum dan kantor-kantor pelayanan mahasiswa yang terkesan seperti dalam sebuah etalase pusat bisnis. Mahasiswa-mahasiswa berbaju koko dan berkopiah atau bergamis. Walaupun ada juga yang cuma pakai kaos biasa dan celana jeans, tapi tidak mengurangi suasana islami yang damai dalam kampus modern nan indah ini. Arsittektur bangunannya banyak yang mirip dengan gedung-gedung klasik buatan peradaban Islam di eropa. Di depan gedung rektorat terpancang berbagai bendera dari negara-negara muslim yang bekerja sama membangun kampus (sayang merah-putih tidak terlihat). Saluran air (sungai) yang membelah kampus pun diperindah sedemikian rupa, dengan adanya air mancur & beberapa ruang publik di pinggir sungai. Airnya memang keruh, tapi mata saya hampir tidak menemukan sampah.

Setelah puas memasuki beberapa kelas kosong dan menyapa beberapa mahasiswa, saya ambil air wudhu dan masuk ke masjid. Subhaanallah,,besarnya tidak bisa dikalahkan dengan masjid-masjid kampus indonesia. Pintu kayu, semilir kipas angin dan karpet empuknya menambah kenyamanan dan kesejukan siapapun yang memasukinya. Saat waktu ifthar tiba, ada seseorang muslim afro yang manggil-manggil dari etalase masjid, memaksa saya ikutan berbuka dengan mereka di luar, tapi saya tolak halus dengan bahasa isyarat. Tidak cukup dengan itu, ada pengurus masjid yang mendekat dan memaksa saya mengambil kurma yang ia bawa. Dia tidak puas ketika saya hanya ambil satu, namun dia mafhum saat saya menunjukkan roti yang saya simpan. Saat sholat maghrib, saya mulai merasa aneh dengan logat bacaan yang dilantunkan sang imam kaukasoid. Karena lagu dan makharijul huruf nya masih terdengar benar dan baik, cukuplah untuk dinikmati.

Ketika muroja’ah ba’da maghrib, seseorang bertampang china-arab datang dan duduk di samping saya. Dia mengeluarkan kertas tugas kuliahnya, matriks matematika. Saya tertarik memperhatikan bagaimana dia mengerjakannya. Tiba-tiba ada mahasiswa lain yang tidak ia kenal menyapanya, memberinya handphone dan dompet. Dia sendiri juga kaget, baru saya tau, itu adalah dompet & Handphone nya yang tertinggal. Subhaanallaah,, beradab sekali..(Pas kebetulan ane ketemu mahasiswa yang beradab atau memang semua nya seperti ini??) Akhirnya saya tidak tahan juga untuk berkenalan dengan china-arab ini. Ternyata namanya Amir, asalnya dari kirgystan (asia tengah), kuliah di administrasi bisnis, undergraduate, umurnya baru 20 thn. Saya bertukar nomor handphone dengan amir ini. Kami ngobrol tentang pekerjaan dan negara asal kami, dan lain-lain, sampai pada titik perbedaan, apakah sebaiknya poligami atau tidak (bukan boleh atau tidak-nya). Saya berpendapat bahwa ayat an-nisaa yang berkaitan dengan ini sebenarnya bertutur tentang perawatan anak yatim. Tentu saja dia tidak sependapat.

Tak terasa diskusi kami dihentikan oleh adzan ‘isya, jam 08.40 pm waktu setempat. Benar saja, ternyata sang imam kaukasoid membaca al-qur’an dengan qiroah yang berbeda, Warosy, masalahnya bukan di situ sebenarnya, tapi bacaannya yang sering dikoreksi oleh makmum itulah intinya, beberapa kali surat Al-Anfal & At-taubah yang salah harus diingatkan. Tarawih di sini terasa seperti di mekkah/madinah, 1 halaman untuk 1 raka’at, dengan berbagai suku bangsa yang mengikuti, banyak yang dari afrika dengan corak khas pakaiannya, tidak sedikit yang dari timur tengah dengan wajah full jenggot, saya perkirakan hampir seribu jama’ah yang memenuhi masjid (ini tarawih, bro!). SubhaanaLllaah..Hanya saja sedikit diiringi berisiknya anak-anak jama’ah yang bercanda di belakang. Saya mengikuti sampai rakaat ke 8 saja, (mestinya 23), karena harus bertemu dengan seorang dosen IIUM yang sudah janjian sebelumnya. Tak disangka, beliau juga pernah cukup dekat dengan beberapa dosen ADKP ITB yang pernah saya kenal. Setelah bersilaturahim dan berbicara tentang kondisi keislaman, keindonesiaan, hingga akademik di malaysia, sang dosen yang juga warga indonesia tersebut menawarkan dirinya mengantar saya kembali ke penginapan di Jalan Ampang. Alhamdulillah, sungguh sebuah malam jum’at yang penuh berkah di IIUM…

3 Tanggapan

  1. semoga berkah, pengalaman yang indah bro :-)

  2. wah, kampus saya itu mah :D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: