A slight moment in IIUM (International Islamic Univ. of Malaysia)

“Souls are like conscripted soldiers, those whom they recognize, they come together, and those whom they do not recognize, they stay away”¬†(meaning of one HR Muslim)

¬†Waktu menunjukkan pukul 5.25 PM saat memulai perjalanan survey ke IIUM kamis sore. Setelah membeli tiket LRT di stasiun Ampang Park, sampai di stasiun Gombak sekitar jam 6.05 PM. Selanjutnya taksi menjadi pilihan kendaraan menuju masjid kampus untuk tubuh yg mulai lelah ini. Sampai kampus, saya cukup takjub dengan infrastruktur dan bangunan IIUM, mungkin ITB kalah. Sesegera mungkin setelah sampai depan masjid, saya kirim pesan ke Pak Sigit (ketua PIP) yang sebelumnya sudah janjian akan silaturahmi ba’da tarawih.

Sambil ngabuburit, saya keliling memperhatikan fakultas-fakultas yang ada dalam kampus. What a complete facility… Perpustakaan dar el hikmah yang ngalahin gedung biru (sekarang abu2)-nya ITB. Fasilitas umum dan kantor-kantor pelayanan mahasiswa yang terkesan seperti dalam sebuah etalase pusat bisnis. Mahasiswa-mahasiswa berbaju koko dan berkopiah atau bergamis. Walaupun ada juga yang cuma pakai kaos biasa dan celana jeans, tapi tidak mengurangi suasana islami yang damai dalam kampus modern nan indah ini. Arsittektur bangunannya banyak yang mirip Baca lebih lanjut