Penyikapan untuk serial “Sleeper Cell”

Bismillah…

Sleeper cell, mungkin secara bahasa berarti sel yang tidur, tapi konteksnya disini tentu saja bukan berbicara tentang biologi. Yang saya maksud adalah sebuah film serial buatan amerika berdurasi 40 menit yang disiarkan tiap pekan di saluran FoxCrime (untuk yang langganan TV kabel bisa dilihat pada bulan2 ini).  Resensi singkatnya bisa dilihat disini.

Saya bukan ingin melakukan resensi ulang, namun lebih pada penyikapan dan opini saya terhadap film ini. Secara umum, seperti pada film-film amerika lainnya, disana ada nuansa kekerasan dan aksi-aksi heroik dari sang jagoan, Darwyn Al-Sayed (Micheal Ealy) yang secara sengaja disusupkan pada kelompok ekstrem pimpinan Faris Farik (Oded Fehr) dengan target menghancurkan pemerintah amerika. Saya akan coba mengupasnya sejauh pemahaman saya tentang dunia pergerakan dari beberapa sisi.

Pertama, dilihat dari keseriusan pembuat film dalam menggarap asal-usul karakter yang terlibat. Saya cukup terkagum, bagaimana sang sutradara dan script writer membuat kelompok tersebut begitu kompak. Walaupun dengan latar belakang suku dan negara yang sangat berbeda (saudi, bosnia, palestine, prancis dan bahkan amerika sendiri) di bawah pimpinan Farik. Di beberapa episode, walaupun ada sedikit ketidak taatan pada kelompok tersebut, tapi Farik berhasil menyatukan kembali pemikiran dan jiwa mereka dengan hukuman-hukuman dan ceramah-ceramahnya. Diskusi-diskusi yang dibawakan oleh kelompok ini juga seringkali menyitir ayat-ayat qur’an dan hadits rasul. Dari sudut ini,  tergambarkan bahwa mayoritas kaum muslimin tidak suka  pemerintah amerika dengan kebijakan-kebijakan luar negrinya.  Oleh karena itulah kelompok ini terbentuk, namun sayangnya karena aroma dendam yang kuat, jadi saluran mereka melalui cara kekerasan. Di sisi ini, karakter Farik sangat kuat mendominasi.

Kedua, visualisasi pergulatan pemikiran yang terjadi pada akal dan pikiran mereka sendiri sangat terasa. Di salah satu episode, diperlihatkan bagaimana bingungnya Darwyn yang ingin berpihak pada Islam dan menjalankan keyakinannya secara menyeluruh (digambarkan Darwyn sangat rajin membaca qur’an, sehingga ia tahu jika ada yang masuk ke kamarnya secara diam-diam dan merubah posisi mushafnya) berbenturan dengan seluruh kondisi yang ia hadapi. Sebenarnya ia menyayangi anggota-anggota dari kelompok tersebut karena keislaman mereka dan kesungguhan mereka dalam beribadah (di salah satu episode digambarkan mereka qiyamullail berjama’ah), akan tetapi jika ia ingin meluruskan pemikiran mereka secara terang-terangan, ia khawatir misinya terungkap. Di lain pihak, supervisi yang selalu mendesak dari atasannya di FBI (dengan alasan kemanusiaan menghentikan terorisme) dan tidak mengerti Islam membuatnya sulit untuk menjelaskan keadaan. Di sini, terlihat sekali bagaimana Darwyn juga berusaha memahamkan agen FBI tentang apa itu  Islam yang pada hakikatnya mencintai kedamaian.

Ketiga, kasus-kasus yang terjadi pada dunia ISlam sangat kental melatari scene yang dibuat. Sudan, Yaman, Palestina, Bosnia, Irak, Afghanistan, Saudi, dan bahkan Indonesia (di salah satu episode, ditampilkan mahasiswa Indonesia yang terekrut oleh Farik dan dijadikan agen lapangan walaupun akhirnya dibunuh oleh Farik sendiri karena kegagalan misinya). Hamas yang sebenarnya adalah organisasi perjuangan pembebasan Palestina juga ikut tertarik-tarik. Di akhir-akhir cerita, diungkapkan ternyata Farik beristri orang Palestina yang sudah menjadi warga negara inggris karena mengungsi cukup lama. Adik dari istrinya ini merupakan salah satu pejuang Hamas yang tewas karena serangan Israel. Di titik ini saya agak kecewa, karena mereka mengidentikkan Hamas dengan serangan-serangan teroris di Amerika, padahal tidak ada kaitannya sama sekali, terlihat sekali dipaksakannya skenario itu.

Terlepas dari dangkalnya pemahaman saya tentang dunia pergerakan islam dan  intelejen, menurut saya film serial ini tetap lebih obyektif dalam menggambarkan situasi dunia Islam dan Islam itu sendiri sebagai sebuah ajaran  agama dan pedoman hidup. Di film ini, kaum muslimin juga bisa bercermin, betapa perpecahan yang terjadi di antara kaum muslimin sendiri benar adanya dan sangat memilukan. Ini bisa dilihat pada episode dimana ada seorang ustadz yang hafidz dari Yaman dan tidak pro amerika, memiliki pemahaman ISlam secara menyeluruh dan berhasil menyadarkan beberapa kader gerakan teroris tersebut, akhirnya terbunuh oleh salah seorang pengagumnya yg juga anggota kelompok Farik, walaupun sudah dirancang  gagal oleh Darwyn (yang juga pengagumnya).

Pesan yang didapat dari film ini jika saya coba tarik, bahwa sesungguhnya Islam tidak mencintai kekerasan, bahwa ada faktor yang menyebabkan pengikutnya ingin membalas, bahwa kadar pemikiran dan pemahaman seseorang da’i akan Islam sangat penting, dan bahwa kita kaum muslimin, memang harus bersatu di atas pemahaman dan akidah yang sama.

Wallaahu a’lam

7 Tanggapan

  1. Subhanallah, pemikiran yang luar biasa,.

  2. keren

  3. Layak untuk ditonton,,,,,,,,dengan saringan yang rapat tentunya…

  4. aku suka sama serial ini…:)

  5. Saya sedang menonton filmnya sekarang (episode 1), seperti biasa tetap kita tdk bs mempercayai film buatan amerika, krn td digambarkan darwyn brhbungan suami istri dengan yg bukan muhrim, tetap selipan2 yang merugikan bagi umat muslim itu ada

  6. Saya makin penasaran dengan filmnya. …saya berharap kaum muslim makin kokoh memepertahankan dan membuktikan tidak seperti itu adanya, islam adalah agama yang damai. humanis. Tidak hanya agama islam, yang dicoba masuki oleh pemikiran atau ajaran menyimpang, agama lain juga rentan dipengaruhi golongan sesat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: