Kunjungan Da’wah di Thailand (Ep.2)

Jum’at, 28 Januari 2008

Setelah subuh berjamaah, kami berbincang ringan bersama dengan keluarga Pak Hambas, sekitar jam 8 pagi, kami menyantap masakan khas palembang yang dibuat oleh istri tuan rumah. Kami seperti di dalam negeri sendiri saat merasakannya. Jam 9.30, kami berangkat menuju rumah seorang warga negara indonesia yang bekerja untuk dan di perusahaan thailand. Sudah cukup lama beliau bermukim di bangkok. Ibu saya mengisi pengajian ibu-ibu indonesia di sana, sementara saya mempersiapkan untuk khutbah jum’at di KBRI. Jam 12.30, kami berangkat menuju KBRI untuk menunaikan sholat jum’at. Di bangkok, karena perbedaan waktu dari jakarta, dan karena masyarakat indonesia yang bekerja di sini saling berjauhan, maka dzhuhur disini baru dimulai sekitar jam 13. Sebenarnya terdapat beberapa masjid besar yang setiap 5 waktu mengumandangkan azan, maklum, walaupun bukan mayoritas, akan tetapi jumlah total muslim disini sekitar 10 %. Saya menyampaikan khutbah jum’at dengan tema Kedekatan dengan Al-qur’an dan efeknya pada kehidupan. Setelah selesai mengimami sholat jum’at, kami memenuhi undangan makan bersama di rumah penyelenggara pengajian ibu-ibu. Ketika energi kami terasa sudah cukup, kami di ajak untuk melihat kembali jejak-jejak islam Indonesia di Bangkok. Kami menuju masjid Jawa yang cukup terkenal di masyarakat muslim Bangkok. Namun, dalam perjalanan, kami dipaksa mampir sebentar untuk dibelikan buah tangan oleh tuan rumah. Karena situasi kota Bangkok yang macet, dan juga karena jaraknya yang cukup jauh, kami baru sampai di masjid jawa sekitar ba’da ashar. Luas masjid ini sekitar 20X20 meter, satu lantai, dengan tempat wudhu di samping kiri dan kanan masjid, tepat di arah timur masjid, berhadapan dengan pintu masjid dan tanpa dihalangi dinding pembatas, adalah tempat bermain dan belajar al-qur’an, semacam TPA di indonesia, cukup untuk menampung sekitar 70-100 siswa, dilengkapi dengan bangku dan meja serta papan tulis, ada tulisan arab pada papan itu. Arsitektur atap dari keseluruhan bangunan ini masih seperti dulu, mengandung unsur tumpang, ciri khas masjid-masjid jawa.

Ternyata, nama masjid jawa bukanlah sekedar penisbatan semata, akan tetapi memang masyarakat yang tinggal di sekitar sana mayoritasnya adalah keturunan jawa dan muslim. Di samping kiri seberang jalan masjid, terdapat area pemakaman yang cukup luas dari masyarakat sekitar. Kuburan di Bangkok, adalah fenomena langka dan unik. Karena mayoritas masyarakatnya menganut kepercayaan Buddha yang menyuruh untuk membakar mayat yang sudah mati supaya bisa hidup kembali pada kehidupan yang akan datang. Untuk memastikan, setelah kami sholat ashar, kami mencoba berkenalan dan melakukan wawancara dengan salah seorang pengurus masjid. Kebetulan beliau sedang Kami berbincang sekitar 15-20 menit, awalnya guide dari KBRI memberikan pengantar sekaligus menjadi translator dengan bahasa Thailand campur inggris, namun yang diajak bicara rupanya tidak terlalu mahir bahasa inggris. Ternyata beliau memperhatikan bahwa kami berasal dari Indonesia dari bahasa yang kami gunakan dalam komunikasi sesama kami. Akhirnya beliau mengaku bisa sedikit bahasa indonesia kepada kami, lebih tepatnya bliau fasih dalam bahasa jawa. KArena kendala bahasa tidak lagi jadi masalah, kami jadi lebih bebas mewawancarai beliau, komunikasi yang awalnya terlihat seperti akan jemu ternyata malah mengasyikkan. Beliau mengaku bernama Haji Salama, datang dari daerah Kendal (dekat Semarang) sejak jaman awal kemerdekaan, mungkin beliau termasuk yang di bawa tentara jepang saat perang dunia 2. Pak Salama memiliki anak dan cucu di daerah itu, dan Alhamdulillah, semuanya masih muslim. Walaupun mayoritas masyarakat keturunan daerah tersebut muslim, akan tetapi ada juga yang keluar dari Islam. Pada waktu idul adha, Pak Salama mengatakan ada sekitar 8 sapi yang disembelih di masjid ini.

Perbincangan kami diselingi dengan kesibukan orang-orang jama’ah tabligh dari pakistan/bangladesh yang kebetulan sedang melakukan khuruj di masjid ini, jumlahnya cukup banyak, ada sekitar 10-15 orang. Dari info Pak Salama, diketahui bahwa imam masjid ini adalah orang Thailand, walaupun dulunya adalah orang jawa, namun karena warga turunan daerah tersebut jarang yang fasih baca qur’an dan tidak ada yang mau, akhirnya ditunjuklah orang thailand. Kondisi syiar da’wah di masjid ini juga cukup baik, ada 1-2 orang perbulan yang masuk islam. Saya cukup terkejut saat dikatakan bahwa siswa dari taman qur’an disini sampai 100 orang per hari. Satu bukti mu’jizat lain kutemukan. Oh,,alangkah ajaibnya al-qur’an! Kegiatan itu sendiri biasanya berlangsung jam 19 ( di sana pas ba’da magrib). Setelah kami interview singkat dengan bliau, kami berkeliling melihat-lihat lebih detail tiap sisi masjid jawa, sekaligus mengambil foto di dekat piagamnya. Tak terasa, maghrib sudah menjelang, kamipun bersiap sholat dan mengambil wudhu, tempat wudhu’ nya juga bagus. Saat selesai sholat sunnah, tiba-tiba pendamping dari kedubes RI mendekat, katanya pengurus masjid mempersilahkan saya untuk jadi imam Sholat! Wah, tawaran yang tak bisa ditolak nih, pengalaman jadi Imam masjid di masyarakat internasional (he2x..). Sempat deg-deg an juga, terharu. Setelah melaksanakan dzikir dan sholat sunnah ba’diyah, saya memperhatikan lebih dekat aktivitas pengajian yang akan dimulai, pesertanya didominasi anak-anak 6-10 thn. Saya kemudian berkenalan dengan salah satu penggiat TPA dan pengurus masjid disana, ternyata beliau adalah pedagang ikan dan sering melayani pelanggan dari indonesia. Kami pun bertukar nomor hp.

Setelah kami berfoto di depan maket miniatur masjid itu, kami pamit dan langsung memenuhi undangan makan malam oleh deputi dubes di Shahrazad, tempat makan muslim yang cukup elit, bertempat di jalan Petchburi. Walaupun terlihat elit, tapi sejujurnya, rasanya lebih enak di tempat Pak Usman. Yang datang saat itu bermacam-macam, sambil syukuran suksesi kepengurusan majelis ta’lim kedubes Thailand katanaya, ada juga pengusaha dari cabang PT Samudera Indonesia, perusahaan pelayaran di thailand. Setelah selesai, kami berpisah dan menuju base camp, rumah Pak Hambas.


2 Tanggapan

  1. Allahu akbar, akhi…

    orang jawa ternyata ada di mana-mana ya. :D
    turut bangga walaupun ga murni jawa.

    btw, mbok satu paragraphnya jangan kepanjangan to…

    • Maha Suci Allah, memang orang jawa itu terkenal, sampe2 ada bahasa pemrograman Java (he2x..). Iya, trima kasih untuk kritiknya, insya Allah coba diekpresikan dengan lebih ringkas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: