Kesadaran Generasi Muda Terhadap Kebangkitan

By: afzalurrahman assalam, mahasiswa

100 tahun lalu, menurut sejarah yang dicatat oleh waktu, sekelompok pemuda Indonesia pertama kali mendirikan perkumpulan yang mengusung tema perjuangan kemerdekaan Indonesia dari penjajah dalam bentuk organisasi modern. Momentum tersebut di kemudian hari dijadikan sebagai salah satu peristiwa titik balik bangsa ini dalam merebut kemerdekaannya. Sebenarnya, jika dilihat lebih detil pada sejarah, ada beberapa organisasi yang juga mengusung tema kemerdekaan namun dengan nama yang berbeda. Tapi bukan itu yang akan menjadi titik beratnya.

Di tengah kondisi bangsa dan negara yang saat ini berada dalam krisis multidimensi berkepanjangan seperti tak berujung ini, bangsa ini butuh harapan. Dan harapan muncul dari sebuah momentum. Oleh karena itulah, mengapa momentum 100 tahun kebangkitan nasional menjadi penting. Masalah yang berlarut pada bangsa ini membutuhkan solusi dan perubahan menuju kea rah yang lebih baik. Namun perubahan itu sendiri bukan tanpa energy. Terutama harga social yang sangat menyedot energy kita. Dengan adanya momentum kebangkitan ini, energy tersebut diharapkan mengisi kembali baterai kesadaran kita, untuk bekal melakukan perubahan.

Tapi, seperti terlihat di tengah realita sebagian masyarakat kita, benarkah kesadaran akan kebangkitan untuk perubahan ke arah yang lebih baik itu sudah muncul pada setiap hati jiwa Indonesia? Budaya negative yang tengah menjamur pada sebagian remaja, penyakit individualistis- yang menyebabkan ketidakpedulian terhadap kondisi masyarakat- yang menulari para pemuda, serta berbagai fenomena yang menyebabkan keraguan terhadap kebangkitan pemuda bangsa ini menjadi semakin bertambah. Mampukah bangsa ini bangkit untuk yang ke sekian kalinya?

Optimisme adalah sesuatu yang mutlak ada pada bangsa pemenang, tentu saja pemuda sebagai tulang punggung utama kebangkitan juga memiliki keinginan untuk menang. Dan oleh karenanya, optimisme harus dimiliki pemuda pada zaman penuh tantangan ini. Tentu saja optimisme yang dibangun bukanlah bersandarkan pada angan-angan dan khayalan picisan tak bermutu. Harapan dan optimism ini harus tetap kita jaga dengan momentum-momentum untuk pengisian energy. Disertai dengan kerja keras dan cerdas yang tepat pada jalur untuk merebut kemenangan.

Pertanyaan berikutnya kemudian muncul, seperti apa bentuk kerja yang optimal untuk pemuda dalam konteks kebangkitan untuk meraih kemenangan ? Sesuatu yang paling mendasar dalam pemikiran kita pun harus dimerdekakan. Oleh karena itulah kita butuh kebebasan dan kemderdekaan dalam mengapresiasi perjuangan merebut kemenangan. Dan kebebasan tersebut tetap dalam koridor yang bertanggung jawab. Inilah yang kemudian sulit dikendalikan, terkadang atas nama kebebasan, para pemuda berbuat diluar batas tanpa pertanggung jawaban. Kebebasan dan tanggung jawab ini harus dalam bingkai nilai dan norma murni dari bangsa Indonesia itu sendiri. Ini agar kemerdekaan tersebut tidak menjadi alat tunggangan dari hal-hal asing, terutama yang mengancam masyarakat Indonesia.

Sebagai contoh, apakah digolongkan sebuah kebangkitan generasi muda, jika hiburan-hiburan yang dibuat dan dinikmati adalah sesuatu yang mengedepankan hawa nafsu. Mungkin alasannya adalah kebebasan berekspresi, tapi ingat, kebebasan manusia bukan tidak terbatas, karena kebebasan manusia lain adalah pembatasnya. Kalau kebebasan kebablasan seperti ini yang terjadi, maka tinggal menunggu kekacauan berikutnya, bukan malah kemenangan dan kebangkitan yang didapat.

Dalam kasus lain, kesadaran akan kebangkitan nasional itu sendiri juga mulai diragukan di kalangan mahasiswa. Tambahan kata ‘maha’ sebelum kata siswa seakan akan sudah tidak berpengaruh. Mahasiswa sering melakukan aksi kekerasan yang notabene bertentangan dengan sifat dasar kaum intelektual. Kita sering mendengar antar mahasiswa itu sendiri terlibat tawuran, belum lagi dengan demonstrasi tidak simpatik yang sering dilakukan. Di sisi lain, kita juga mendapati masalah-masalah moral dan ketidakpedulian yang menumpulkan nurani intelektual mahasiswa. Fenomena ini terutama terjadi di kampus-kampus kota besar, mahasiswa terlihat seperti sudah menjadi kaum elit yang tidak peduli terhadap keadaan masyarakatnya.

Di luar itu semua, harapan masih ada pada diri pemuda. Di tengah badai ini, pemuda tetap menjadi pilihan utama dan tulang punggung untuk kebangkitan menuju perubahan yang lebih baik. Dengan syarat, pemuda-pemuda Indonesia masih memiliki apa yang juga dimiliki oleh pemuda Indonesia saat dulu kebangkitan nasional pertama kali dipancangkan: keyakinan, nurani, optimisme dan kekuatan.

4 Tanggapan

  1. Keberanian pemuda akan memimpin perubahan, sedang iman jadi pengendalinya… :)

  2. ya ya ya…sepakat akh…sya ngopi artikel antum ya…buat jadi referensi aja. coz ntar ngisi diskusi di LPM VISI, bareng sama PD 3. smgt utk terus bergerak menebar kebaikan.

  3. mantap gan blogmu untuk memberikan semangat kpd generasi muda. salam kenal uah, klo ada waktu mampir ke blogku yah. trims

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: