Kunjungan Da’wah Saya Ke Thailand (Ep. 1)

Rabu, 23 Januari 2008

Berangkat dari Bandara Soekarno Hatta, Jam 22.00 dengan menggunakan penerbangan Garuda Airlines GA 867. Straight to Thailand.

Kamis, 24 Januari 2008

Jam 2.30 pagi, kami tiba di bandara Suvarnabhumi, bandara Internasional Thailand yang baru di bangun dan merupakan bandara terbesar di asia tenggara. Dinding-dindingnya terbuat dari kaca sehingga orang-orang dari luar bisa melihat yang di dalam, dan yang didalam bisa melihat lapangan lepas landas pesawat. Setelah mengurus masalah imigrasi di bandara kami dijemput oleh Pak Hambas dan PAk Heru. Pak HAmbas adalah salah satu karyawan Garuda yang ditempatkan bekerja di Bangkok. Sedangkan Pak Heru adalah seorang dosen FH UI yang sedang meneruskan S 3 nya di Mahidol University, Bangkok. Mereka adalah aktivis da’wah yang mengundang kami ke sana. Mereka juga yang memperkenalkan kami pada KBRI.

Dari bandara Suvarnabhumi, Pak Hambas yang menyetir honda Civic nya membawa kami ke apartemen nya di Bangkok, distrik Sukhumvit. Melalui kota Bangkok di tengah malam, walau masih terlihat gemerlapnya, akan tetapi toko-toko biasa sudah pada tutup. Apartemen PAk Hambas ini seperti hotel dengan 3 ruangan kamar tidur yang besar. Kami beristirahat di rumah Pak Hambas hingga Subuh. Ketika Subuh, kami melaksanakan sholat subub berjama’ah. Kemudian, jam 10 pagi, kami diantarkan ke KBRI. KBRI di Bangkok ini merupakan salah satu KBRI yang terbesar. DIkabarkan, dulu keluarga raja pernah ditolong oleh Indonesia, sehingga sebagai balas jasa, KBRI di Thailand diberikan di tempat yang Istimewa.

Jam 10, saya mengisi pengajian siswa-siswa Sekolah INdonesia Bangkok di KBRI. Selesai jam 12.30, setelah itu kami melaksanakan Sholat dzhuhur berjama’ah. Sehabis makan siang, kami menuju Grand Palace, yang merupakan tempat ibadah raja Bumibol Adulyadej (dibaca indonesia : Bumipon Adulyadeh). Yang berbentuk Kuil pagoda dengan megahnya berdiri dan dilapisi emas. Kilaunya sudah bisa terlihat dari jauh. Kami hanya memasuki gerbang utama luarnya saja. Tidak sampai masuk jauh ke dalam. Setelah sampai didepan gerbang dalam, kami foto bersama dan langsung melanjutkan perjalanan. Tujuan berikutnya adalah Wat Arun.

Rombongan dari teman-teman kedubes yang ikut adalah Pak Heru ( dosen FH UI yg sedang studi S3), Pak Adi ( dosen UGM yg sedang S3), Pak Sholeh (staf pengajar di sekolah kedubes) dan beberapa teman yang lain. Selama perjalanan, saya melihat kota BAngkok yang sangat padat.Mobil kami sering menemui kemacetan di seluruh kota Bangkok, akan tetapi sangat jarang ditemukan tabrakan terjadi dan bunyi klakson hampir tak pernah terdengar. Keramahan mereka ternyata adalah bagian dari ibadah mereka. Yang lebih mengejutkan adalah disana ternyata lotre bahkan ada departemennya. DAn tidak ada peminta-minta selain biksu. Wat (Kuil) Arun adalah semacam tempat peribadatan pendeta di sana. DAlam kepercayaan di Thailand, setiap orang minimal harus menamatkan sejenis ibadah 40 hari dalam hidupnya. DImana 40 hari itu diisi dengan ibadah-ibadah menurut mereka. Selama 40 hari itu pendeta harus menjauhi makanan daging serta menjauhi wanita. JIka tersentuh wanita, maka ibadah mereka batal dan harus diulang. Setelah menaiki Wat Arun yang ketinggiannya kurang lebih 50 meter, kami melanjutkan ke sungai Chao Phraya untuk menyebrang sekaligus ke tempat tujuan. WAt Arun memang sengaja di buat dipinggir sungai Chao Phraya untuk melayani kebutuhan para nelayan dan pelaut yang masuk ke thailand melalui sungai itu. Chao Phraya sendiri merupakan salah satu ikon penting Thailand. Sungai ini cukup bersih walaupun airnya keruh. Larangan untuk membuang sampah di sungai ini cukup efektif, sehingga tidak banyak sampah yang mengambang dan tidak membuat bau. Kami menyebrang sekaligus menuju stasiun pemberhentian kapal seberikutnya. Perlu diketahui, bahwa Chao Phraya ini sudah menjadi sarana transportasi massal sejak dulu. Dan karena keindahan dan kebersihannya, banyak hotel yang menempatkan lokasi mereka di pinggir sungai ini. Menurut Pak Sholeh, dulu ada stasiun yang merupakan peringatan terhadap pembunuhan salah satu tokoh muslim thailand.

Setelah tiba ke stasion tujuan yang masih di bangkok, kami langsung menuju salah satu masjid bersejarah. Yaitu masjid Ban’u (klo g salah dibacanya msjid BAnten), karena dulu memang banyak orang Indonesia muslim yang dulu bermukim di sekitar sana dan kemudian mendirikan masjid. Salah seorang sesepuh masjid itu kami sapa dan wawancara. Ternyata beliau tadinya berasal dari cirebon. Bisa di ajak bahasa Jawa, tapi susah ngerti bahasa indonesia. Selepas sholat ashaar di masjid tersebut, kami meneruskan perjalanan pulang. KArena sangat macet, jadi kami mampir dan ditraktir makan dulu oleh Pak Heru dan Pak Hambas di sebuah tempat makan sederhana milik muslim melayu. Nama pemiliknya adalah Pak Usman. Para karyawannya juga bisa bahasa melayu, sehingga kami tidak terlalu sulit berkomunikasi. Setelah makan malam, baru kami balik kembali ke tempat penginapan di Apartemennya PAk HAmbas.

3 Tanggapan

  1. waaaaaaaaaaa…….. thailand!

  2. Subhanallah, mampir juga ke Thailand :) Ga ke thailand selatan, Af, yang mayoritas muslim? Masih terjadi diskriminasi n kekerasan ga?

  3. subhanallah, sebuah pengalaman yang luar biasa.
    perjalanan dakwah yang penuh ilmu dan hikmah..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: