Qurban pertamaku Di Hari Pengorbanan

Sebuah Kontradiksi…

Bismillah

Pagi hari, 20-12-07

Idul adha, sebagaimana artinya, ‘kembali ke pengorbanan’, seharusnya dimaknai dengan rasa pengorbanan apa saja yang kita miliki, kita korbankan demi ridho dan  cinta-Nya. Namun pengorbanan itu disimbolkan dengan penyembelihan hewan ternak peliharaan. Begitu juga yang keluarga kami coba budayakan. Bapak, ibu, saya dan adik ke-2 saya ikut urunan untuk membeli hewan qurban sesuai dengan yang disayari’atkan. Walaupun saya harus menabung beberapa bulan untuk membeli satu bagian, alhamdulillah keinginan itu terkabulkan juga. Kebetulan keluarga kami menitipkan satu ekor kambing yang   akan disembelih pada hari idul adha setelah sholat ‘id. Kami menitipkannya pada panitia di masjid komplek, sekaligus juga untuk diurus pembagiannya kepada masayarakat sekitar. Sedangkan hewan yang lain dititipkan di tempat lain. Selepas makan pagi  ba’da ‘id,  saya melihat sesi penyembelihan hewan dengan keluarga, dan beberapa warga asli komplek, termasuk pak rama pratama.

kurban-2ed.jpgKetika waktunya kambing kurban kami akan disembelih, ibu meminta saya untuk  mewakili keluarga menyembelih kambing tersebut. Dengan tuntunan   Takbir dan basmalah, akhirnya saya berhasil menyembelihnya dengan lancar. Darah mengalir dan muncrat kemana-mana, melumuri kedua tangan saya, termasuk ke pakaian dan wajah saya. Mulanya saya agak gugup, karena ini adalah pertama kalinya saya menyembelih hewan, tapi Alhamdulillah, golok yang dipakai cukup tajam, sehingga tidak perlu  menyembelih terlalu lama. Kira-kira 5-6 gesek golok tersebut, seluruh pembuluh darah arteri dari kambing sudah putus, diikuti dengan terputusnya tenggorokan dan kerongkongan. Alhamdulillah, saya berhasil menunaikan salah satu sunnah nabi.

kurban-3ed.jpg

Setelah menyembelih, saya menyaksikan betapa daging kurban itu benar-benar diinginkan oleh masyarakat sekitar kompleks, yang notabene golongan menengah ke bawah. Ada yang sejak awal disembelih sudah diperebutkan dagingnya, untungnya panitia benar-benar sigap, sehingga para warga lebih tenang dalam menunggu bagiannya.

kurban-4ed.jpg

Malam hari, 20-12-07

Malam harinya, ibu meminta saya untuk menemani beliau sekaligus jadi supir  ke acara walimah seorang putra dari salah satu temannya. Kebetulan, saya juga kenal dengan ayah dari pengantin pria nya. Acaranya digelar di sebuah hotel bintang 5 di bilangan jakarta selatan. Sewaktu memasuki area tempat acara, mobil-mobil mewah sudah memadati jalan-jalan di area tersebut. Sebegitu terkenalnya keluarga dari yang mengadakan hajatan ini, pikir saya. DI sekitar area sebelum pintu masuk ruangan, banyak karangan bunga sukacita dari berbagai pihak. Baik atas nama pribadi maupun perusahaan, dan yang lebih menarik, banyak dari perusahaan tersebut adalah perusahaan tingkat elit.  Sebut saja Ciputra Group salah satu contohnya. Ketika di ruang acara, kami beberapa kali bertemu dengan para pejabat penting, seperti mantan menteri, najwa shihab bahkan s.d Ust Musholli & Pak Shohibul Iman, saya lihat. Akan tetapi, jika dilihat dari resepsi yang diselenggarakan, bisa ditebak  dana yang dihabiskan tidak kurang dari  harga 2 mobil sedan kelas menengah. Kue-kue yang disajikan, makanan yang disediakan, tempat yang sangat elit, para petugas keamanan, layar dan infocus dan fasilitas lainnya. Memang, para tamu yang datang bukanlah tamu biasa, karena pengantin wanitanya adalah seorang american muslim. Ia adalah muslim sejak lahir dari keluarga muslim di amerika.

Hati saya jadi terasa agak sesak, ketika mengingat kejadian pagi harinya, dimana masyarakat  bawah berebut makanan. Sedangkan di acara tersebut ada banyak yang tak termakan. Saya masih berbaik sangka, bahwa beliau yang punya hajatan ini sudah memberikan haknya kepada kaum miskin. Kontras..

Pulangnya, kami berdiskusi di mobil tentang keadaan di acara tersebut, agak berlebihan menurut kami, mulai dari penyelenggaraan sampai pakaian yang dikenakan tamu  (terutama yang wanita) . Sambil bercanda, terlontar pertanyaan dari mulut saya, “bu, kalo ntar mas aaf nikah gimana ya?, kalo teman-teman ibu bapak adalah para tokoh seperti tadi, termasuk juga jika calon mertua adalah tokoh juga, apakah harus dengan resepsi yang mewah-mewah? “..Pertanyaan yang tidak perlu dijawab sebenarnya. Karena dalam pikiran saya, tidak mungkin saya bermewah dengan sengaja sementara masyarakat kecil teriak kelaparan di sisi lain.

Wallaahu a’lam

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: