NASIONALISME DI INDUSTRI HULU MIGAS

Afzalurrahman Assalam, Teknik Geofisika ITB, Peserta PPSDMS Regional II Angkatan 2 

Dalam diskusi-diskusi yang kita lakukan, seringkali kita membawa istilah nasionalisme dalam pembicaraan.  Tampaknya definisi nasionalisme sendiri masih dalam perdebatan. Akan tetapi, setidaknya kita bisa menarik beberapa kata inti  dari istilah nasionalisme, yaitu semangat dan gairah dalam menjaga bangsa dan negara sebagai amanah dari Allah SWT, memperjuangkannya demi martabat dan harga diri. Menarik jika kita kaitkan dengan wacana yang beredar di kalangan dunia industri hulu migas di Indonesia. Apalagi dengan adanya keputusan Mahkamah Konstitusi untuk menolak judicial review atas UU Migas No. 22/2001.

Berbicara mengenai UU Migas No. 22/2001, banyak kalangan profesional Baca lebih lanjut

TINJAUAN KRITIS TERHADAP FASE-FASE PERADABAN ISLAM

Afzalurrahman Assalam, Teknik Geofisika ITB, Peserta PPSDMS Regional II Angkatan 2

Banyak dari kita yang sudah mengetahui tentang fase-fase peradaban islam yang diperkirakan Rasulullah. Dalam haditsnya yang terkenal, beliau menyebutkan tentang keadaan dan kondisi umat islam, yang dalam hal ini beliau cirikan dengan keadaan para penguasanya. Setidaknya beliau membagi fase peradaban islam setelah beliau wafat dalam empat fase. Fase pertama adalah fase dimana kepemimpinan kaum muslimin dikelola oleh orang-orang yang mengacu pada cara (manhaj) kepemimpinan nabi (khilaafah ‘alaa minhaajin –nubuwwah), yang adil dan mengangkat kewibawaan Islam. Menurut para ulama pergerakan, fase ini disepakati sudah berlalu dengan para aktornya adalah khulafaa-ur-rasyidiin (Khalifah-khalifah yang diberikan petunjuk: Abu Bakr, Umar, Utsman dan Aliy ). Fase kedua merupakan masa dimana para penguasanya kebanyakan adalah penguasa yang sombong, angkuh dan tidak lagi menggunakan manhaj kepemimpinan nabi. Walaupun begitu, para penguasa di fase ini masih menggunakan hukum-hukum Islam sebagai dasar perundangan negara. Fase ini disepakati oleh para ulama pergerakan juga sudah terlewati. Diakhiri dengan runtuhnya kekhilafahan Islam internasional Baca lebih lanjut

Qurban pertamaku Di Hari Pengorbanan

Sebuah Kontradiksi…

Bismillah

Pagi hari, 20-12-07

Idul adha, sebagaimana artinya, ‘kembali ke pengorbanan’, seharusnya dimaknai dengan rasa pengorbanan apa saja yang kita miliki, kita korbankan demi ridho dan  cinta-Nya. Namun pengorbanan itu disimbolkan dengan penyembelihan hewan ternak peliharaan. Begitu juga yang keluarga kami coba budayakan. Bapak, ibu, saya dan adik ke-2 saya ikut urunan untuk membeli hewan qurban sesuai dengan yang disayari’atkan. Walaupun saya harus menabung beberapa bulan untuk membeli satu bagian, alhamdulillah keinginan itu terkabulkan juga. Kebetulan keluarga kami menitipkan satu ekor kambing yang   akan disembelih pada hari idul adha setelah sholat ‘id. Kami menitipkannya pada panitia di masjid komplek, sekaligus juga untuk diurus pembagiannya kepada masayarakat sekitar. Sedangkan hewan yang lain dititipkan di tempat lain. Selepas makan pagi  ba’da ‘id,  saya melihat sesi penyembelihan hewan dengan keluarga, dan beberapa warga asli komplek, termasuk pak rama pratama.

kurban-2ed.jpgKetika waktunya kambing kurban kami akan disembelih, ibu meminta saya untuk  mewakili keluarga menyembelih kambing tersebut. Dengan tuntunan   Takbir dan basmalah, akhirnya saya berhasil menyembelihnya dengan lancar. Darah mengalir dan muncrat kemana-mana, melumuri kedua tangan saya, termasuk ke pakaian dan wajah say Baca lebih lanjut