Kepahlawan Pemimpin Indonesia

My november article

Afzalurrahman Assalam, Teknik Geofisika ITB, Peserta PPSDMS Regional II Angkatan 2

 

Pahlawan, dalam definisi kamus bahasa Oxford, ialah manusia(orang) yang digelari atau dihormati atas ketinggiannya, keberanian, keteguhan hati, dan kemampuan yang luar biasa. Seringkali masyarakat awam berpandangan bahwa pahlawan adalah orang-orang yang sangat berjasa pada kehidupannya.

Kepahlawanan membawa sifat dasar, yaitu keberanian dan kerelaan berkorban. Atau setidaknya, perjuangannya telah membuktikan bahwa pahlawan berani berkorban, tentu saja bagi kepentingan orang yang menghargainya sebagai pahlawan. Karena sifat ini, maka definisi pahlawan menjadi sangat luas. Bagi seorang anak, ibu adalah pahlawan. Bagi seorang istri, suami adalah pahlawan. Kondisi ini bisa juga berlaku sebaliknya. Namun jika difokuskan pada level masyarakat atau umat, maka pelakunya adalah manusia-manusia bermental baja yang dengan sangat berani, telah membuktikan kerelaannya mengorbankan apa saja yang dia miliki, untuk kepentingan umat, demi keberlangsungan kehidupan manusia.

Para nabi, ulama dan da’i, adalah pahlawan, bagi kepentingan kehidupan akhirat manusia. Para ilmuwan, akademisi, peneliti adalah pahlawan, untuk kepentingan kehidupan duniawi manusia. Mereka rela menjadikan diri mereka sebagai harga yang harus dibayar untuk mendapatkan kondisi yang ideal bagi manusia. Mereka menghabiskan sebagian besar waktu mereka, untuk kepentingan kebaikan manusia itu sendiri. Namun kebanyakan dari mereka tak dikenal dan dikenang masyarakat banyak, karena tidak dipublikasikan atau juga tidak langsung bersentuhan dengan masyarakat.

Pahlawan bisa juga muncul dalam wujud pemimpin. Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab adalah salah satu diantara pahlawan-pahlawan Islam, yang telah merelakan dirinya untuk kepentingan umat Islam pasca wafatnya Rasulullah SAW. Umar bin Khattab bahkan tak rela jika harta umat terpakai sedikitpun untuk kepentingan pribadinya, kecuali yang sudah menjadi haknya. Dia pun perlu mematikan lampu lilin kantornya untuk bisa berdiskusi masalah keluarga dengan putranya. Abu Bakar, menyerahkan seluruh harta bendanya untuk kepentingan umat ini dalam perjuangan di jalan Allah SWT. Ketika ditanya, apa yang ditinggalkannya untuk keluarganya, dia jawab bahwa Allah dan Rasul cukup sebagai ‘peninggalan’ bagi keluarganya.

Dalam sejarah Indonesia, kita pernah memiliki Jendral Besar Sudirman, yang sangat ikhlas merelakan jiwa dan raganya dalam memimpin Tentara Rakyat Indonesia untuk perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Sampai wafatnya pun beliau menghabiskan kebanyakan waktunya di hutan belantara. Bergerilya menghadapi penjajah asing. Sangat jarang berada di lingkungan Istana, kecuali kalau ada keperluan Negara yang sangat penting. Meski harus ditandu ketika memimpin gerilya karena sakit parahnya, beliau tetap berkorban mengobarkan semangat prajurit TRI. Toh ditengah mencekamnya peperangan, beliau tetap melakukan qiyamullail dan tahajjud dengan ajeg tiap malamnya. Pengorbanannya disaksikan penghuni belantara.

Masih banyak contoh pahlawan-pemimpin hebat, yang dengan kesederhanaan dan kebesaran jiwanya, membuat umat dan bangsa ini harusnya segera tersadar. Mereka sudah korbankan jiwa, harta dan waktu mereka, untuk kebaikan umat dan bangsa ini. Dan sudah seharusnya kita meneruskan dan meneladani mereka dalam berjuang menegakkan kemerdekaan yang masih ‘setengah-setengah’ seperti sekarang.

Tapi coba lihat fenomena manusia yang serakah dan pelupa. Saat ini di Indonesia, para pemimpin bangsa ini belum juga menunjukkan niat mereka untuk menjadi ‘pahlawan’. Saling berebut kuasa, harta. Terbelit ‘masalah’ dengan wanita. Tidak sedikit pun keteladanan berkorban mereka contohkan. Seringkali terjerumus dan terperangkap dalam gorong-gorong dari nafsu kotor mereka. Tak terbersit di hati mereka tentang anak-anak fakir yang kelaparan, rakyat miskin yang kedinginan karena tak punya rumah dan kekurangan bahan pakaian. Bagaimana mungkin bisa dibandingkan dengan kepahlawanan Abu Bakar dan Umar. Jika Umar khawatir akan harta umat yang terpakai untuk kepentingan pribadinya, maka kebanyakan pemimpin saat ini galau jika mereka tak bisa mencuri harta rakyat. Jika Abu Bakar mengorbankan seluruh harta bendanya untuk umat, maka ‘mereka’ mengerahkan segenap kekuatannya untuk merampas hak umat.

Jendral Sudirman juga terlalu jauh jika disandingkan dengan mereka. Mungkin beliau akan kecewa, merasakan hasil pengorbanannya dikacaukan dan dirusak oleh oknum-oknum pemimpin, oknum yang tidak mempunyai orientasi keberanian dan pengorbanan. Tidak mustahil tangisnya akan menetes, saat melihat para penerusnya hanyalah orang-orang bermental tikus yang serakah nan hipokrit. Jelas saja, beliau dikhianati oleh bangsanya sendiri!

Wallaahu a’lam

2 Tanggapan

  1. Assalamu’alaikum……
    subhanallah, sangat menginspirasi.
    Syukron jazakallah.
    Wassalam….

  2. Cerita pahlawannya mana? ?_?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: