Sesa(a)t di kelas Well Log Analysis

Well Log Analysis Class, Thursday. Oktagon, ITB
Seperti hari-hari biasanya, kamis siang itu kami masuk kelas well log analysis dngn normal. Tak terlihat perasaan bersalah di wajah kami. Akan tetapi ketika Pak Nuki (nama panggilan dosen) masuk, dan setelah meletakkan tas serta melepas jas hujan hitamnya, suasana di kelas agak panas, walaupun di luar baru saja hujan deras.

Apa sebab? trnyta beliau sedang patah hati. Tak sembarang patah hati, Pak Nuki sangat kecewa pada kasus ini. Lalu siapa yg jadi target? Trnyata penyebab beliau patah hati adalh karena mahasiswa didikannya ( kami2 ini). Beliau sangat kecewa, melebihi kecewanya seseorang saat patah hati. Yang menyebabkan beliau kecewa adalah laporan dari para asistennya, bahwa ketika sedang melakukan Mid test, banyak yg terlihat dan ketahuan jelas-jelas mencontek. Dan beliau sangat marah atas kelakuan sebagian kami yang menjadi oknum. Beliau bilang oknum tersebut tidak kurang dari 10 orang.

Beliau bercerita panjang lebar tentang pentingnya karakter dalam pembangunan kepribadian. Beliau bahkan melihat para pelaku pencontek ini lebih busuk daripada pelacur, perampok dan pelaku-pelaku kejahatan sejenis. Bagi para perampok dan pelacur misalnya, mungkin ada keterdesakan ekonomi sehingga mereka kehilangan jalan dan terpaksa berlaku seperti itu. Beliau bahkan masih yakin bahwa dari mereka pasti memiliki sisi-sisi kebaikan di balik kelakuan itu. Akan tetapi bagi seorang mahasiswa yang mencontek, beliau tidak melihat satu pun sisi kebaikan dari seorang pencontek. Beliau mendefinisikan, seorang pencontek tidak lebih dari seorang pengecut dan pencundang yang berusaha menutupi dan menipu dirinya dengan melihat pekerjaan orang lain, saat yang dibutuhkan adalah kejujuran. Beliau beralasan, dengan adanya pencontek ini, maka tata struktur nilai yang benar jadi rusak. Beliau bisa salah memberikan amanah jika yang dijadikan acuan adalah nilai hasil mencontek ini. Distribusi nilai nya juga bukan lagi distribusi yang sesungguhnya.

Beliau sangat menekankan integritas dalam setiap melakukan sesuatu. DAn sangat menolak lelucon “zaman sekarang, yang jujur ya ancur”, jika memang tidak suka dan soalnya memang rumit, ya jangan sampai menipu diri sendiri dan menipu orang lain, bahkan ‘merampok’ hasil kerja orang lain. Bagi seorang yang ksatria dan jantan, biar saja nilainya jelek, jika memang tidak suka, asalkan lulus mata kuliah wajib, sudah cukup baginya, itulah yang seharusnya menjadi ‘value’.

Bagi sya, ceramah dosen tntang karakter seperti ini dalam kelas kuliah formal, seperti air bening yang menghapus dahaga saya. Jarang sekali dosen yang mau dengan sangat tegas menyikapi hal-hal sperti ini layaknya Pak Nuki. Beliau bahkan berani memberikan nilai E pada saudaranya sendiri yang melakukan tindakn mencontek. Bahkan di ITB sekalipun, banyak dosen yang kurang tegas dalam menghukum, walaupun ketahuan mencontek misalnya. Dengan pencerahan dari kasus ini, saya sangat yakin, dunia ini masih sangat menghargai yang namanya kejujuran. Sebagaiman layaknya seorang teman, ‘peganglah kejujuran itu sesulit apapun kondisinya’.

TErngiang lagi nasihat seorang Rasul, Sang Pendidik bagi umat terakhir.

“seorang mukmin mungkin bisa saja khilaf melakukan pencurian, berzina, saat imannya lemah/hilang, akan tetapi seorang mukmin tidak mungkin berdusta”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: