Ramadhan..

”Peran Strategis Ramadhan dalam Membangun Karakter Bangsa”

Afzalurrahman Assalam, Teknik Geofisika ITB, peserta PPSDMS Regional II Bandung angkatan 2

Sekilas Keutamaan Ramadhan

Ramadhan dalam sejarah umat Islam penuh dengan momentum-momentum kebaikan. Tinta emas telah mencatat betapa Rasulullah melakukan peperangan pertama kalinya dalam Islam pada bulan ini. Peperangan yang sangat tidak seimbang dari segi SDM dan peralatan. Namun dengan kesabaran dan keteguhan, kaum muslimin berhasil membuktikan kebenaran Islam dengan memenangkan saat-saat yang sangat krusial tersebut. Tidak tanggung-tanggung, dari 300 orang mujahid Badar bersenjata seadanya, hanya 14 orang yang menemui syahadah (kesyahidan). Mengalahkan lebih dari 1000 pasukan musyrik bersenjata lengkap. Sebuah kemenangan telak .

Pun dengan peristiwa Fathu Makkah, dimana kaum muslimin berhasil merebut kota Makkah yang saat itu masih di tangan kekuasaan kaum kafir, tanpa pertumpahan darah yang berarti. Makkah dinaungi dengan kemuliaan akhlaq kaum muslimin yang tidak menyimpan dendam, sehingga hampir seluruh penduduk Makkah mengucapkan syahadatain Dan sederet catatan-catatan gemilang lainnya pada bulan Ramadhan yang tidak bisa penulis sebutkan di sini.

Peristiwa-peristiwa tersebut tidak bisa dilepaskan dari kaitannya dengan status Ramadhan sebagai bulan yang paling mulia. Rasulullah menyebutkan, bahwa keutamaan bulan ini bagaikan keutamaan dirinya dengan ummatnya. Begitu mulianya bulan ini, bahkan Rasulullah dan para sahabatnya biasa mempersiapkan ’penyambutan’ Ramadhan 3-6 bulan sebelumnya.

Ramadhan dan Aktivitas Sosial ke-Ummat-an(case study)

Ketika Ramadhan tiba, semua kaum muslimin melakukan shiyam (puasa) wajib. Amalan-amalan kebaikan dinaikkan derajatnya oleh Allah SWT. ”Pintu surga dibuka selebar-lebarnya, setan-setan dibelenggu, dan pintu neraka ditutup”, sabda Rasulullah SAW. Beliau juga menganjurkan kita untuk memperbanyak sodaqoh dalam segala bentuknya, diantaranya memberikan ta’jil (makanan buka puasa). Walaupun dengan seteguk air putih dan sebiji kurma, insya Allah jika dengan ikhlas,dapat meringankan azab neraka baginya. ”Dia akan mendapat pahala dari amalan orang itu pada hari ia puasa, tanpa mengurangi pahala orang yang diberi”, kata Rasul SAW.

Tentu saja, kaum muslimin sangat bersemangat karena motivasi tersebut, tidak di timur tidak di barat, tidak di Madinah, Makkah atau di Indonesia, tapi di seluruh dunia dimana di situ kaum muslimin berada, saling berlomba memberikan ta’jil pada kaum muslimin yang berpuasa. Suatu saat, penulis pernah berkesempatan untuk buka puasa Ramadhan berjama’ah di masjid nabawi dan masjidil haram, bersama dengan para jama’ah lain. Kondisinya tidak jauh berbeda dengan di masjid-masjid Indonesia saat berbuka, mereka menyediakan makanan ta’jil yang seoptimal mungkin, bahkan ketika di Masjid Nabawi disediakan roti besar, kurma terbaik, susu yoghurt sapi, teh dan makanan khas Madinah lainnya. Sajian itu untuk perorangan, subhanallah.

Peran Strategis dalam Pembangunan Karakter Umat

Kegiatan di atas hanya salah satu contoh, betapa ketika Ramadhan berlangsung, tercipta kondisi yang sangat tepat untuk membentuk kesolehan individu dan kesolehan sosial ( kesolehan yang berjama’ah ).

Ibadah puasa Ramadhan dalam Alquran dikatakan sebagai media pembentuk manusia bertaqwa kepada Allah (QS Al-Baqarah: 183). Dalam perspektif Al-Qur’an, taqwa yang dimaksud tidak hanya berwujud ketundukan personal yang bersifat vertikal, tetapi juga memiliki kaitan dalam kehidupan sosial umat manusia di bumi (tattaquun artinya ”kalian bersama-sama bertaqwa”).

Puasa yang bagaimanakah yang dapat membentuk manusia-manusia bertaqwa? Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW mengatakan, ”Betapa banyak orang berpuasa, tetapi tiada yang didapatkannya kecuali hanya lapar dan dahaga.” Secara filosofis, pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa berpuasa itu sejatinya tidak hanya sekadar menahan diri dari makan, minum, dan hubungan seksual mulai dari terbit fajar sampai matahari terbenam. Tetapi, ada makna lain yang lebih mendasar yang menjadi inti dari ibadah puasa itu sendiri, yaitu mengendalikan diri dari rayuan hawa nafsu.

Secara instrinsik, ibadah puasa berfungsi sebagai latihan pengendalian diri dari kejatuhan moral dan spiritual akibat menturuti hawa nafsu. Pengendalian diri tersebut hakikatnya merupakan motif dasar tentang pentingnya ketundukan pada Allah dalam segala kondisi dan situasi. Upaya pengendalian diri itu menjadi semakin kukuh karena puasa bersifat personal, tidak ada seorang pun yang dapat mengetahuinya, bahkan menilainya, kecuali hanya Allah SWT semata. Dalam sebuah hadis qudsi, Allah SWT berfirman, ”Semua amal bani Adam AS untuk dirinya, kecuali puasa. Puasa adalah untuk-Ku dan Aku yang memberi ganjaran atasnya.”

Shiyam diibaratkan sebagai pabrik, yang diproyeksikan untuk memproduksi manusia-manusia yang mempunyai kesadaran ke-Ilahi-an dan kemanusiaan, selalu jujur, adil, komitmen terhadap kebenaran, membawa ketenteraman, dan kedamaian, serta tunduk kepada Allah. Oleh karena itu, Al-Qur’an menegaskan bahwa ibadah puasa dapat membentuk manusia yang bertaqwa, jika dilakukan dengan sepenuh kesungguhan. Dengan pelaksanaan seperti itu, puasa akan membawa ketenteraman dan kedamaian di bumi ini. Dampaknya, segala bentuk kejahatan, berbagai tindak kekerasan, beragam teror, dan intimidasi bisa dihentikan. Ibadah puasa pada hakikatnya menyadarkan manusia tentang adanya pengawasan total dari Allah atas segala gerakan hidup dan aktivitas manusia di mana pun mereka berada.

Konsekuensi sosialnya, ibadah puasa menyadarkan diri manusia tentang pentingnya amal-amal sosial dan kemasyarakatan. Puasa, secara psikologis akan membawa kesadaran manusia tentang bagaimana perasaan masyarakat yang secara ekonomi hidupnya susah. Kesadaran tersebut diantaranya dapat diwujudkan dalam bentuk saling menolong serta membantu untuk meringankan beban para kaum lemah dan fakir miskin.

Kesuksesan Ramadhan

Penulis ingat sebuah wawancara TV Al-Jaziirah dengan DR Yusuf Qorodhowy selepas Ramadhan tahun lalu. Beliau mengatakan bahwa salah satu tanda sukes dan diterimanya semua amalan Ramadhan kita adalah keberlanjutan amalan-amalan kebaikan tersebut, terutama pada bulan-bulan setelahnya, walaupun Ramadhan sudah usai. Pernyataan beliau memang benar, Ibnu Al-Qoyyim al-Jauziyyah mengatakan dalam ’minhajul qoshidin’-nya, bahwa ketika seseorang sukses melakukan amal baik dan diterima Allah, maka Allah akan memberikan dia rasa tidak puas akan amal baiknya tersebut, sehingga memancing orang itu untuk melakukan amal baik lagi untuk kali berikutnya.

Dan jika kondisi di atas benar-benar terjadi pada negeri Indonesia khususnya ( yang merupakan negeri muslim terbesar di dunia) dan dunia Islam umumnya, bukan tidak mungkin akan mampu mengatasi berbagai macam krisis. Sehingga segala bentuk kejahatan, kerusuhan, kemiskinan, keonaran dan berbagai macam teror dapat dihentikan dari muka bumi. Keadilan, kemakmuran, kejujuran, dan kebenaran akan dapat ditegakkan kembali di bumi Indonesia dan bumi ini.

Wallaahu a’lam

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: