geofisika

GEOFISIKA DALAM MEMINIMALISIR DAMPAK BENCANA

Afzalurrahman Assalam, Teknik Geofisika ITB, Peserta PPSDMS Regional II Angkatan 2

 

Akhir-akhir ini, bencana demi bencana bertubi-tubi menyerang bangsa Indonesia, baik itu karena dominasi faktor eksternal ataupun karena faktor human error. Longsor, gempa bumi dan kecelakaan alat transportasi adalah diantaranya. Untuk akhir tahun 2006- awal 2007 saja, lebih dari 500 korban jiwa melayang. Bisakah keadaan tragis ini diminimalisir ?

Penulis akan mencoba melihat dari sisi bidang dimana penulis mempelajarinya. Sebagai contoh, untuk bencana longsor dan gempa bumi, sebenarnya dari segi korban bisa diminimalisir. Longsor bisa disebabkan karena rapuhnya struktur tanah dan terlalu berlebihannya kandungan air tanah tanpa adanya penyerap yang berfungsi sebagai penahan, seperti pepohonan. Jika dipantau dari struktur tanah, masih banyak perumahan yang menempati daerah dengan struktur tanah yang rapuh dan rawan. Struktur tanah adalah kondisi fisik tanah dimana unsur penyusun tanah, kekuatan ikatan antar butir penyusun tanah, dan porositas serta permeabilitas batuan penyusun menjadi factor yang diperhitungkan. Terutama sebagai indicator stabil atau tidaknya keadaan tanah tersebut.

Nah, dari sisi inilah peranan ilmu geofisika menjadi penting. Karena diantara sekian banyak ilmu yang dipelajari, ada metode yang bisa menentukan factor-faktor dari kestabilan struktur tanah. Metode gravitimeter, mengidentifikasi densitas ( rapat massa ) batuan dari tanah. Jika suatu tanah berdensitas tinggi, bisa diasumsikan rapat massanya tinggi dan tingkat kestabilannya juga semakin tinggi. Metode ini juga bisa digunakan dalam menentukan bentuk tubuh batuan pembentuk daratan tanah di bagian bawah. Sehingga kita bisa menentukan daerah mana saja yang ada kemungkinan terjadinya longsoran bawah tanah ( subsidence ).

Metode lain adalah metode seismic. Baik metode ‘seismic dalam’ ( refleksi ) maupun ‘seismic dangkal’ ( refraksi ), keduanya bisa menjadi sangat urgen dalam menentukan daerah tanah dengan porositas dan permeabilitas yang baik atau buruk. Jika mayoritas porositas batuan dari daratan tanah buruk, maka daya serap tanah terhadap air juga buruk, sehingga bisa diasumsikan daerah tersebut sudah tak layak lagi untuk dijadikan tempat tinggal yang aman. Karena, jika tiba-tiba curah hujan deras yang tinggi melanda, maka daerah tersebut tidak bisa menampung air secara massif. Selanjutnya, tinggal menunggu daerah tersebut untuk longsor. Ini terbukti pada daerah-daerah yang terkena bencana longsor, dimana daya serap air yang rendah membuat batuan pembentuk tanah tersebut tidak kuat menahan angka curah hujan yang tinggi.

Selain itu ada lagi metode geolistrik, yang dengan cara ini, kita bisa melakukan determinasi terhadap keberadaan jalur-jalur air bawah tanah. Sehingga daerah yang dekat dengan jalur ini dan kebetulan struktur tanahnya rawan bisa dihindari, karena daerah daratan jenis ini juga mengandung potensi bencana longsor.

Begitu juga peranannya dalam meminimalisir efek gempa bumi. Gempa bumi memang tak dapat dicegah, tapi efeknya merusaknya dapat kita antisipasi dengan ilmu-ilmu geofisika. Baik gempa vulkanik maupun tektonik, keduanya bisa mempunyai daya hancur yang besar. Gempa vulkanik bahkan bisa diperkirakan waktu kejadiannya dengan melakukan perhitungan statistic terhadap frekuensi kejadian. Gempa jenis ini juga bisa diidentifikasi terlebih dahulu sebelum terjadi gempa besarnya dengan metode micro gravity.

Metode-metode di atas juga digunakan untuk menentukan daerah-daerah rawan gempa maupun daerah rawan longsor akibat efek gempa. Jika pemerintah mau benar-benar concern terhadap masalah keselamatan masyarakat, harusnya mereka bisa mengaplikasikannya dalam menentukan daerah layak pemukiman atau tidak. Kompas, edisi 14/01/07, menyebutkan bahwa potensi longsor terbesar di Indonesia adalah pulau jawa. Selain karena hutannya digunduli, memang struktur tanahnya juga tidak stabil. Ini demi mencegah lebih banyaknya korban berjatuhan akibat jenis-jenis bencana seperti longsor dan gempa bumi.

Untuk masalah biaya, penulis yakin pendanaan untuk aplikasi metode geofisika di atas, tidaklah sebesar pendanaan untuk recovery akibat sudah terjadinya bencana. Daripada harus kehilangan bangunan mahal yang sudah dibangun bertahun-tahun lamanya akibat salah perencanaan, lebih baik melakukan penelitian terlebih dahulu terhadap kondisi struktur tanah. Toh, kasus ambrolnya tol Cipularang cukup bisa menjadi pelajaran. Minimal, jika terpaksa harus membangun di daerah rawan tersebut, fondasi dan kekuatan struktur bangunannya bisa dirancang untuk tahan beberapa detik terhadap bencana tersebut.

Dan pemerintah dalam hal ini, juga bisa menetapkan peraturan untuk pihak-pihak yang akan membangun pemukiman. Misalnya menjadi salah satu syarat keluarnya IMB. Agar mereka benar-benar mengetahui kondisi fisik struktur bawah tanah yang mungkin, untuk dilakukan pembangunan di atasnya. Supaya dampak bencana longsor dapat diminimalisir dari segi korban jiwa maupun financial.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: