17-an bareng anak2 kampung

KEMERDEKAAN DI MATA ANAK – ANAK KAMPUNG

Afzalurrahman Assalam, Teknik Geofisika ITB, Peserta PPSDMS Regional II Angkatan 2

Pada hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia tahun ini, saya bersama teman-teman aktivis merayakannya dengan anak-anak kampung di sebuah pelosok desa daerah Puncak Megamendung, Bogor. Kami melakukan peringatan dengan mengundang mereka pada upacara bendera 17 Agustus, dilanjutkan dengan bakti sosial yang dimeriahkan dengan lomba-lomba yang bersifat mendidik .

Ketika melakukan rangkaian kegiatan tersebut, ada haru biru yang menghampiri perasaan, melihat keadaan mereka yang serba sederhana. Akan tetapi ada juga yang memaksakan mengenakan pakaian merah putih sekolah dasar bekas yang sudah lusuh, walaupun kami tahu anak tersebut belum mencapai usia sekolah. Keriangan dan ketulusan mereka dalam mengikuti jalannya acara membuat saya berfikir, adakah mereka memiliki pemahaman tentang makna kemerdekaan ? Jikapun ada, seperti apa ? Sewaktu jenis lomba menggambar diselenggarakan, banyak yang membuat imajinasi tentang bangunan sekolah ideal disertai dengan tiang bendera dan bendera merah putihnya. Dari situ saya tersadar, apakah bagi mereka kemerdekaan hanyalah sebuah upacara bendera ? Atau itu adalah gambaran tentang impian masa depan mereka yang kebanyakan tidak bisa sekolah karena masalah dana ?

Kegiatan perlombaan berjalan dengan lancar, pada akhir acara, diberikan hadiah-hadiah kepada para pemenang. Kepada mereka para juara, kami melakukan wawancara singkat. Ketika ditanyakan tentang cita-cita mereka, ada yang berteriak ‘saya ingin jadi insinyur !’, juara lain berseru ‘saya ingin jadi dokter !’. Tapi yang membuat saya sangat tersentak adalah suara seorang anak kecil yang berkata ‘saya ingin jadi presiden !’, itu diungkapkan dengan sungguh-sungguh dan bernada datar serius. Dalam hati kecil, saya mengamini doa anak tersebut, dengan tambahan doa, bahwa mereka akan menjadi generasi pengganti yang lebih baik dari sebelumnya dan istiqomah dalam belajar.

Walaupun harapan saya kemungkinan besar gagal, dengan kondisi negara seperti sekarang ini, bagaimana bisa ? Minim-nya alokasi dana yang disediakan untuk pendidikan murah, korupsi yang menggerogoti bidang pendidikan, membuat mereka tidak bisa sekolah lebih lanjut, ibarat pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga pula.

Masih banyak anak – anak di kampung lain di seluruh belahan republik Indonesia yang kemungkinan besar memiliki kondisi yang tidak jauh berbeda dari yang saya sebutkan di atas. Bahkan bisa jadi lebih parah, kenyataan di atas mungkin juga hanya fenomena gunung es, di mana jumlah yang tidak terlihatnya lebih banyak.

Di sini kita dapat menemukan cacatnya system pendidikan yang menyeluruh. Anak-anak kampung tersebut punya hak sama dengan warga lain untuk mendapatkan pendidikan dasar. Mereka juga punya hak untuk bermain, sebagaimana mereka juga punya hak untuk diberi makan. Akan tetapi yang terjadi adalah mereka tidak cukup memiliki waktu bermain, karena di suruh oleh orang tuanya untuk membantu perekonomian keluarga mereka. Mereka di paksa kawin muda untuk mengurangi beban keluarga, secepat mungkin. Seperti di kampung tersebut, ada seorang perempuan yang baru lulus SD dan seharusnya masuk SMP malah sudah mempunyai anak karena pernikahan yang lebih awal. Jelas saja, masa bermain dan belajar mereka menjadi berkurang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: