RAMADHAN & TITIK TEMU UMAT ISLAM

 

RAMADHAN & TITIK TEMU UMAT ISLAM

Afzalurrahman Assalam, Teknik Geofisika ITB, Peserta PPSDMS Regional II Angkatan 2

wihdatul ummahRamadhan yang mulia selalu membawa berkah. Di bulan ini, seluruh kaum muslimin melakukan ibadah shoum (puasa) wajib. Tidak ada satupun golongan dari kaum muslimin yang menafikan ibadah ini. Shaum dilakukan dengan cara menahan makan dan minum serta kebutuhan interaksi biologis suami istri, dari waktu fajar ( subuh ) hingga terbenamnya matahari ( waktu maghrib ). Pada dasarnya, shaum diperintahkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla kepada manusia dengan tujuan supaya manusia itu bertaqwa. Definisi taqwa itu sendiri adalah bersegera melakukan apapun yang diperintahkan Allah dan menjauhi segala apa yang dilarang oleh-Nya.

Dengan shoum, manusia mendidik dirinya untuk menahan dan mengendalikan hawa nafsu. Oleh karenanya, Allah memberikan peluang pahala dan keutamaan yang lebih banyak pada manusia pada bulan ini jika dibandingkan dengan bulan lain. Sehingga dengan harapan untuk mendapatkan ganjaran tersebut, manusia bisa bersemangat dan berlomba-lomba dalam melakukan ibadah di bulan ini. Tanpa dikomando, semua kaum muslimin di dunia seakan-akan bersepakat untuk melakukan sebuah demonstrasi terpisah di masing-masing tempat tinggalnya. Mereka melaksanakan ibadah shoum, yang dengan ibadah ini, lapar yang dirasakan kemudian menumbuhkan empati terhadap kaum fakir miskin. Semua kaum muslimin merasakan bagaimana menderitanya orang miskin yang biasanya tidak makan karena tidak mampu membeli atau mendapatkannya. Dengan rasa lapar ini juga, keinginan-keinginan hawa nafsu perut lebih mudah untuk ditahan. Tidak hanya shoum, pada bulan Ramadhan ini, beribu-ribu kaum muslimin juga melaksanakan sholat tarawih berjama’ah yang sebenarnya merupakan qiyamullail dengan desain waktu agak lebih maju. Walaupun tarawih ini statusnya sunnah, akan tetapi di berbagai negara, ibadah ini menjadi seperti ibadah penanda bahwa ramadhan sedang berlangsung.

Dilihat dari sisi luar, perilaku kaum muslimin di seluruh dunia seperti mozaik yang indah dengan keberagaman warna dan ras akan tetapi melakukan kegiatan yang sama walapun di daerah yang berbeda. Momentum Ramadhan ini ibarat sebuah titik temu umat islam dari segi spiritual dalam waktu yang sama. Sebuah masa yang sebenarnya bisa dijadikan ‘turning point’ (titik balik) bagi seluruh kaum muslimin di seluruh dunia untuk menemukan jalan kebangkitannya.

Harapan tersebut bukanlah suatu utopia, jikalau kaum muslimin di belahan bumi manapun bersedia meninggalkan semua egoisme golongan, sebagaimana memang menjadi makna dari shoum ramadhan itu sendiri. Kita meniggalkan rasa ego kita untuk banyak makan demi melaksanakan ibadah puasa, dimana puasa (secara terminologi) sering dilakukan oleh rakyat miskin. Tidak pandang jabatan, setiap orang yang mengaku sebagai seorang muslim harus melaksanakannya, melaksanakan kebiasaan lapar kaum miskin

Realitas di lapangan menggambarkan kecenderungan sebaliknya dari harapan di atas. Sebuah keadaan yang menyayat hati manusia-manusia pecinta kebangkitan Islam. Seringkali antara kaum muslimin itu sendiri berselisih dalam hal-hal yang terlihat remeh, akan tetapi bisa membawa dampak besar pada pembangunan peradaban islam. Sebagai contoh, pada penentuan waktu-waktu penting dalam kalender Islam. Tidak usah jauh-jauh, misalnya dalam penentuan waktu awal ramadhan, waktu hari raya ‘Idul Fitri atau ‘Idul adha. Karena ulama yang satu pada golongan tertentu berbeda cara dalam menentukan awal ramadhan, maka ia dan seluruh pengikutnya dari golongan tersebut, tidak mau mengikuti waktu yang sudah ditentukan oleh pemerintah karena berbeda cara penentuan. Terkait penentuan awal ramadhan ini, secara umum sebenarnya ada dua metode dalam penentuannya, metode hisab dan metode ru’yat. Metode hisab (penggenapan bulan dan penghitungan astronomi) dilakukan oleh orang-orang yang meyakini teknologi sebagai pengukuhan dari fakta ru’yat. Adapun ru’yat dilakukan sebagai cara factual dan real dengan cara melihat langsung hilal (bulan kecil) sebagai penanda dari pergantian Bulan.

Akibat dari perbedaan cara penentuan ini, membuat beberapa penganut metode konvensional (ru’yat) yang fanatic terlihat sangat ekstrim dalam menghukumi masalah tersebut. Untuk penyelesaian kasus seperti di atas, Syaikh Yusuf Qorodhowy lebih berperndapat, teknologi modern yang digunakan dalam penghitungan hisab sekarang ini bisa jadi lebih akurat dan presisi dibandingkan dengan metode ru’yat, yang notabene hanya mengandalkan mata telanjang. Mata manusia bisa tertimpa ilusi atau halusinasi atau efek-efek lainnya yang menyerupai bentuk hilal. Sehingga, akan lebih bijak jikalaupun ru’yat tetap dilakukan, harus ada acuan terlebih dahulu dari hasil hisab. Hasil ru’yat tidak boleh bertentangan dengan hasil hisab yang telah dilakukan. Metode hisab ini bisa diterapkan pula pada penentuan waktu-waktu penting lainnya pada kalender hijriah. Sehingga kepastian akan waktu dalam kalender ke-Islam-an kita akan menjadi lebih baik. Kepastian kalender islam ini juga dapat dijadikan sebagai salah satu pertanda, bahwa umat islam sudah dalam jalur kebangkitan dengan persatuan akan acuan waktu yang sama.

wallaahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: